Endless Love, Sebuah Cerita.


Bunga adalah keindahan. Sebagaimana kau memberikan setangkai untukku. Ketika dengan gugupnya kau ucap:

Maukah menjadi istriku?
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Aku tersipu. Mawar itu menjadi kenangan. Sesuatu yang istimewa di mata dan perasaan. Bahkan sampai sekarang.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Tapi mengapa kini, hanya aku yang membawakannya untukmu? Mengganti setiap ia layu di vas samping tempat kau berbaring dan membisu.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Hatiku selau merindu.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Bangun sayang. Aku membawakanmu bunga. Kali ini mawar. Ini yang keseratus. Bangun. Aku ingin kau yang memberiku bunga seperti saat melamarku dulu.

Namun hanya bisu yang kuterima. Aku pun terdiam dalam isakanku sendiri.

Aku menahan nafas. Ketika suara mesin seirama detak jantungmu, tiba-tiba berbunyi hanya satu nada tut... Tut....
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Suara itu bergaung di telinga. Menusuk hingga ke hati. Aku tak mampu bergerak. Air mata pun tiada menetes lagi. Aku tahu hari ini akan tiba. Sebab kau telah katakan itu berulang kali. Kau kuatkan aku setiap hari.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Ya. Aku tahu aku akan menghadapi ini. Kepergianmu adalah kepastian. Katup jantungmu yang tak sempurna membuat tubuhmu melemah. Tak dapat bekerja berat. Bahkan naik beberapa anak tangga saja dapat memicu serangan jantung.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀

Aku tahu kau menyesalkan sakitmu itu. Berulang kali kau memintaku pergi. Berulang kali kau menangisi keadaanmu. Aku tak menyukai itu. Sungguh. Bahagiaku adalah kamu. Susah, senang, sehat atau sakit asal bersamamu tak mengapa. Karena kau suamiku. Belahan jiwaku. My endless love.



⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Dan sekarang detak jantungmu berhenti. Dokter dan dua orang perawat sibuk mengurusmu. Tapi aku hanya dapat membeku. Pun ketika dokter itu menyatakan bahwa kau benar-benar telah tiada. Aku hanya membisu. Sejenak tatapanku menghitam.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Bagaimana aku menjalani hidup selanjutnya, sayang? Aku tetap bingung harus memulai dari mana. Kakiku kaku melangkah barang selangkah pun. Terpaku dalam kenangan bersamamu.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
🥀
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Widia! Ngelamun lagi nih?

Suara Sarah mengejutkanku. Aku tersenyum menanggapinya. Karena memang aku tengah melamun.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Nih, ada surat lagi dari pengagum rahasiamu.

Sebuah amplop biru laut disodorkan Sarah padaku. Dahiku berkerut. Ada rasa enggan menerimanya. Aku bukan di masa mampu mabuk kepayang karena hal seperti ini. Cinta bagiku telah membeku. Jauh di sudut hati kusimpan untuk almarhum suamiku seorang.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Tapi aku  tak enak menolak tanpa alasan. Kembali aku tersenyum sembari menerima amplop itu.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Siapa sih yang ngirim-ngirim surat gini? Dia belum tahu ya kalau aku janda?

Sarah mengerlingkan mata. Malah menahan tawa.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Sepertinya dia tahu, ucapnya membuat mataku melotot tak percaya. Aku mulai serius.

Kamu tahu dia siapa?

Sarah hanya tersenyum dan berlalu meninggalkanku ke meja kerjanya. Aku curiga, Sarah mengenal orang yang mengirimiku surat ini. Tapi aku terlalu malas untuk membahasnya. Sahabatku itu memang kadang menjengkelkan seperti ini. Tapi aku tahu dia selalu menyayangiku.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Kami sudah berteman sejak SMA. Hingga kuliah pun satu kampus, meski berbeda kelas. Dan sekarang, bekerja di tempat yang sama pula.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Kutatap amplop biru itu. Terlihat manis. Menyejukkan seperti menatap langit. Warna kesukaanku.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Surat pertama hanya berisi sebaris kata: AKU MENCINTAIMU SEJAK LAMA. Lalu apa lagi yang kedua ini? Aku tidak mengharap apa-apa. Tapi rasa penasaran membuatku ingin membaca surat beramplop biru ini.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
MAUKAH KAU MENERIMA CINTAKU?
AKU INGIN MENJADI TEMAN HIDUPMU, WIDIA.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Perasaanku tak enak. Aku yakin orang ini benar-benar mengenalku. Tapi sungguh, sekarang bukan waktu yang tepat untuk ini. Setahun terlalu singkat untuk melupakan, apa lagi mengganti posisi suamiku dengan orang lain. Lagi pula, surat seperti ini kesannya pengecut. Aku tak suka sembunyi-sembunyi tak jelas begini. Kembali kuabaikan surat beramplop biru itu.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
🥀
Suatu hari, Sarah mengajakku bicara serius tentang si pengirim surat itu.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Widia, kamu baca kan suratnya? Tanya Sarah.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Iya lah. Cuma 10 kata juga. Jawabku acuh.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Bagaimana menurutmu? Maksudku jawabanmu terhadap surat itu. Kutunggu-tunggu dan tak pernah kau menitipkan balasan padaku.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Sarah, kita sudah dewasa. Menurutku sangat tak etis mengirim surat seperti itu, jika memang tujuannya serius. Aku juga belum bisa membuka hatiku selain untuk almrhum suamiku, tandasku.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Wid, orang ini serius ingin melamarmu. Dia bahkan sudah menemui kedua orang tuamu. Dia hanya sangat bingung bagaimana cara mengatakannya padamu. Penjelasan Sarah membuat mataku terbelalak. Hampir saja tersedak es lemon yang sejak tadi kunikmati.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Apa aku mengenalnya? Pertanyaan inti yang malah membuatku makin terkejut mendengar jawabannya.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Ya. Dia Kakakku. Kak Dandi. Jawab Sarah. Beberapa detik aku tak sadar telah menahan nafas. Rasa tak percaya membuatku berpikir. Mencerna lagi ucapan Sarah barusan.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Kak Dandi...? tanyaku bingung. Disambut anggukan pasti, Sarah.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Aku jadi mengingat saudara kandung satu-satunya sahabatku ini. Beberapa kali kami memang pernah bertemu. Tapi Kak Dandi tipe orang pendiam, menurutku. Jika berpapasan, saat aku bertandang ke rumah Sarah atau ketika ia menjemput Sarah, paling hanya senyum sekilas saja. Walau satu kampus, kami bahkan tak pernah bertemu tak sengaja sekalipun, tanpa adanya Sarah. Tak kusangka dia lah yang mengirimiku surat biru itu.


⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀

Dulu memang aku mengaguminya. Bahkan hingga saat ini. Dia mahasiswa berprestasi. Banyak Dosen dan mahasiswa membicarakannya. Tapi, aku hanya sekadar kagum. Dia kuanggap kakakku juga karena kakak sahabatku.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Jadi bagaimana? Sarah membuyarkan lamunanku. Aku menghela nafas.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Aku bukan yang terbaik untuk Kak Dandi. Kupikir, Kak Dandi bisa menemukan perempuan lain yang lebih sepadan dengannya. Lagi pula dia kakakmu, artinya dia kakakku. Sarah tampak kecewa.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Jangan memutuskan sekarang, Widia. Aku ingin kau tahu lebih jauh tentang Kak Dandi terlebih dahulu. Aku ingin kau mempertimbangkannya sekali lagi. Pinta Sarah. Aku terdiam. Sebenarnya aku keberatan. Bagaimanapun aku mengenalnya nanti, suamiku sudah mengisi penuh seluruh hatiku.

Kamu juga, mana ada kakak sahabatmu jadi kakakmu. Yang ada jadi suamimu. Ucap Sarah santai. Aku yang melotot tak suka.


Bersambung.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀

0 Komentar