Setelah menikah, aku seperti memiliki dunia baru. Ada bahagia, ada duka. Belajar mengenal pasangan, berbarengan dengan beradaptasinya tubuh dalam proses menjadi ibu, merupakan sesuatu yang tidak mudah. Tak lagi mengenal siapa aku. Demikian yang sempat kualami. Beruntungnya masih dapat kembali 'hidup'. Masih mampu menemukan bahagia dengan caraku: Mencintai Diri Sendiri.

Menikah, hubungan suci ini nyatanya tak mudah dijalani. Tidak selalu tawa dan kemesraan yang ada. Jauh lebih dari itu. Mengenal luar dalam pasangan hidup kita, adalah sesuatu yang perlu kesiapan batin. Kamu harus mau menerima kekurangan di balik kelebihannya.

Meski ada kemiripan, tapi tetap akan banyak perbedaan. Entah itu kebiasaan maupun pandangan dalam banyak hal. Semua dapat mencipta konflik.

Perempuan adalah sosok yang kuat. Itu lah mengapa ia sanggup mengandung, melahirkan dan menyusui anaknya. Akan tetapi, kuat itu akan patah seketika saat psikologisnya terganggu.

Lelah fisik, disambung lelah pikiran, dapat menjadikan perempuan seseorang yang sangat rapuh. Apa yang kualami, adalah akumulasi dari kurangnya kesiapan mental, kurangnya pemahaman tentang hakikat pernikahan dan disorientasi cita-cita masa depan. Dimana seharusnya siap menikah siap pula menjadi orang tua, yang artinya siap menjadi pendidik bagi anak sendiri.


Kesepian
Perasaan yang kemudian meliputiku kurang lebih satu tahun setelah menikah. Makin terasa sunyi ketika hadirnya buah hati kami. Mengapa dia tak menjadi penghapus kesepianku? Karena bukan kesepian dalam arti tanpa suara yang kualami. Melainkan kekosongan hati.

Sejak menikah, aku terpaksa berhenti bekerja. Karena hamil muda dengan mual dan muntah parah, membuatku seakan tak punya lagi tenaga. Di sini, aku mulai kehilangan sedikit dari diriku: dunia kerja dan penghasilan.

Tidak hanya itu, organisasi yang kujalani juga terpaksa kulepas. Bukan dengan senang hati, tapi tetap harus mengikhlaskannya. Karena pekerjaan dan tanggung jawab seorang istri dan ibu itu berat sekali. Sayangnya aku tak mampu menyesuaikan keadaan. Aku kembali kehilangan sebagian diriku: dunia organisasi, teman-teman di sana.

Setelah usia kandungan masuk trisemester kedua, akhirnya aku dapat fokus menyelesaikan kuliah. Meski berbadan dua dan harus naik turun lantai empat demi konsultasi skripsi, aku bahagia. Setidaknya masih ada lingkungan lain selain rumah yang kudatangi.

Usai lulus aku kembali stagnan. Makin lama, aku makin merasakan kesepian itu. Hingga sempat berpikir banyak hal buruk yang ingin kulakukan untuk mengakhiri semuanya. Mungkin aku mengalami baby blues atau postpartum depression.


Untungnya, meski setipis kertas, aku masih punya iman. Tuhan adalah tempat bergantung.

Menjalani hidup hanya untuk menghabiskan waktu
Inilah bentuk nyata bahwa aku mengalami disorientasi cita-cita. Kesalahannya ada sejak awal pernikahan. Ini bukan masalah cinta. Tapi tentang pandangan hidup yang seharusnya terkonsep dan terealisasi dengan baik, sebelum memasuki 'hidup baru'.



Lalu, suatu ketika seorang Kakak tingkat seorganisasiku dulu, mengajakku bergabung dalam bisnis. Kupelajari bisnisnya. Cukup menarik. Maka bergabunglah aku.

Sejak itu, sebagai leader, dia sering menghubungiku. Aku mulai merasa lebih baik. Karena selain urusan bisnis, kami juga berbicara tentang kehidupan masing-masing. Dan inilah ternyata yang kubutuhkan. Berkomunikasi, berinteraksi dengan orang lain. Menemukan lagi sedikit demi sedikit orientasi kehidupan yang semestinya. Terlebih produk yang kami jual tergolong produk kesehatan wanita.

Aku lalu menemukan satu hal yang harusnya kulakukan sejak dulu: Mencintai diriku sendiri.

Mencintai diri sendiri, adalah jalanku untuk bahagia.

Bagaimana aplikasi nyata mencintai diri sendiri?

1. Me time
Berikan hak tubuh untuk beristriahat. Makan bergizi, cukupi kebutuhan tidur dan tidak mengerjakan pekerjaan yang terlalu berat secara terus menerus.

Meski di rumah saja, 24 jam adalah waktunya bekerja bagi seorang ibu. Oleh karenanya perlu waktu khusus untuk benar-benar meninggalkan aktivitas biasanya, untuk bersantai.

2. Buang jauh Overthinking
Orang yang overthinking biasanya akan lambat mengambil keputusan. Terlalu banyak pertimbangan malah makin menambah pikiran. Akibatnya tidak jadi memutuskan dan tak melakukan apapun. Alias berhenti di tempat, sementara kepala berat oleh beban risiko yang diandai-andaikan. Solusinya lakukan segera, hadapi risiko dengan kepala dingin. Selesaikan masalah dengan baik-baik.

3. Open Minded
Kita harus selalu berpikir positif untuk melahirkan perasaan nyaman di dalam hati. Open minded! Jangan selalu terkungkung oleh keadaan. Cari wawasan baru, ilmu baru, pengalaman baru. Banyak hal yang bisa dilakukan dan berbuah kebaikan jika kita membuka pikiran. Kita akan memiliki rasa percaya diri, optimisme dan merasa lebih baik dengan pikiran terbuka.

4. Lakukan hal yang disukai
Kalau suka masak, boleh lah bereksperimen dengan masakanmu. Dulu aku suka masak kue. Berbagai resep kupraktikkan. Gagal kuulang lagi, sukses ganti resep baru. Sesuka hati. Yang penting happy.

Sejak SMP aku suka sekali menulis. Apapun yang aku alami akan jadi bahan tulisanku. Entah itu curhatan di buku harian atau berbentuk puisi. SMA aku mulai berani mengirimkan tulisanku ke radio untuk dibacakan. Beberapa kali karyaku mengudara. Ketika kuliah, aku ikut dua organisasi kepenulisan.

Sejatinya menulis adalah bagian dari hidupku. Dan menikah, punya anak, sibuk urusan rumah tangga, menjadikanku lupa pada satu hal penting ini.

Akhirnya, aku mulai menulis lagi. Mengikuti lomba dan proyek buku antologi. Menghubungi kembali teman-teman seorganisasi dulu. Lalu kutemukan sesuatu yang baru. Menulis adalah obat! Ya, dengan menulis, tekanan psikologis yang selama ini tak kusadari kualami, perlahan membaik dan terus membaik.


Tentu akan ada rasa malas dalam meng-upgrade diri untuk jadi lebih baik. Seperti dalam hal melakukan eksperimen dengan resep masakan dan menulis.

Dalam self-determination theory atau teori determinasi diri, dijelaskan bahwa salah satu alasan seseorang malas melakukan sesuatu dikarenakan kurangnya motivasi intrinsik (Fathan akbar, Satu Persen net, 18/2/2020). Maka kembali lagi, untuk membuang rasa malas ini, kita harus membuang jauh overthinking dan benar-benar open minded, untuk dapat menerima masukan baru dan terus memperbaiki diri.

Demikian bahagia dengan caraku sendiri. Kamu bisa coba mengaplikasikan pengalamanku ini, jika kamu juga tengah mengalami hal yang sama yang dulu kualami. Mari kita mulai dari MENCINTAI DIRI SENDIRI.



#SatuPersenBlogCompetition

Akun Linkedln:
https://www.linkedin.com/in/deris-afriani-28a5b21a7




22 Komentar

  1. Pas baca overthinking, aku suka gitu sih🤭 mending lambat ambil keputusan tp ga jad ngaco...ini yg menusuk itu pas lambat, eh salah pulak..hahahaa... Masih terus memperbaiki diri, hehee... Ternyata itu masuk bagian kurang mencintai diri sendiri ya😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Overthinking itu jatuhnya kebanyakan mikirin buruknya. Endingnya gak jadi melakukan apa2. Memeprtimbangkan dengan matang, kayanya lebih pas dengan yang mbak lya lakukan. Hati-hati, tapi tetap action. Beda dengan overthinking.

      Hapus
  2. nice artikel bgt bahagia dengan caraku 💕

    BalasHapus
  3. Cara bahagia tiap orang emang beda ya Bun? harus tahu cara mencintai diri sendiri 👍 terima kasih sharingnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener Mbak. Tapi yang pasti tetap harus mencintai diri sendiri dulu, untuk tahu apa yang disukai dan apa yang ingin dilakukan.

      Hapus
  4. Percaya banget dengan apa yang mba utarakan karena saya sendiri kadang merasakan seperti itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang pasti semangat selalu mencintai diri sendiri 😊

      Hapus
  5. Suka mom sama tulisannya balik ke diri sendiri ya .Hidup kita mau seperti apa . Cara bahagia orang bedabeda-beda .Menulis itu memang obat yang membuat kita bisa bahagia menuangkan nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups. Mari bahagia. Lakukan hal yang disuka 😊

      Hapus
  6. menikah yg menurut banyak orang dikira untuk keluar dari masalah justru sebenarnya banyak masalah yg tujuannya untuk menguji ya kak. Bahagia memang relatif untuk tiap orang yg menjalani.
    good luck lombanya kak. :)

    BalasHapus
  7. Bener banget aku juga sering lupa untuk mencintai diri sendiri karena kesibukan sebagai ibu dan istri benar benar menguras tenaga dan pikiran, dan sampe sekarang pun masih susah cari waktu untuk me time krn apa yang menjadi hobiku belum sepenuhnya bisa terealisasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dibawa santai aja ya Mbak. Yang pasti harus tetap tenang dan bahagia heee

      Hapus
  8. Setuju banget nih Mbak hehe, mencintai diri sendiri memang hal paling utama sebelum kita mencintai orang lain. Terus menulis dan semangat menjadi ibu produktif :* peluk dari jauh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Mbak. Bagi2 dong kalau ada info job blogger atau ig ya 😁

      Hapus
  9. Huuuaaaa kita samaan kak. Menulis adalah obat kegundahan, obat kegelisahan, obat sakit hati bahkan. Alhamdulillah setidaknya meski hanya mengobati kelegaan tp sudah lebih dr cukup untuk dinikmati

    BalasHapus
    Balasan
    1. Writing healing ya. Ayo lanjut nulis 👌

      Hapus
  10. bener banget sih, me time sejenak buat kita jadi jauh lebih produktif. tapi me time bagi seorang muslim itu sama dengan ibadah ya nggak sih? misalnya aja solat, lima menit tapi bisa buat refresh otak.

    BalasHapus
  11. Nice share. Menjadi diri sendiri itu harus. Menjadi diri yang meningkat lebih baik harus juga. Quality time bersama keluarga penting, sisanya me time juga harus ada

    BalasHapus
  12. Setuju banget soal me time dan open minded itu
    Manusia perlu jadi dirinya sendiri lewat me time
    Dan berpikira. Terbuka bisa menyingkirikan pikiran buruk

    BalasHapus

Silakan berkomentar dengan baik dan bijak. Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak 🤗