Telivisi sudah menjadi bagian keseharian kebanyakan dari kita. Hampir setiap rumah memiliki benda persegi ini. Ada banyak manfaat yang dapat diperoleh darinya, terutama sebagai sarana hiburan dan informasi.

Demikian juga bagi anak-anak. TV bahkan menjadi kebutuhan bagi mereka untuk mengisi waktu. Tanpa kita sadari, dari tontonan di TV, anak-anak juga belajar banyak hal. Belajar yang baik maupun buruk.

Akan tetapi, selain nilai positif, banyak pula dampak negatif menonton TV. Terutama untuk anak-anak. Misalnya saja, ketika mereka menonton film atau acara yang bukan diperuntukkan bagi usia mereka. Bahkan berita pun, kebanyakan mempertontonkan tindak kekerasan. Sangat tidak pas jika dilihat oleh anak.


Selain itu, durasi menonton terlalu lama juga dapat berakibat buruk. Baik bagi anak-anak maupun dewasa. Dikutip dari doktersehat.com (4/4/14), anak yang lebih banyak menonton TV di rumah, akan lebih cenderung mengalami kerusakan mata, dibanding dengan anak yang lebih sering menghabiskan waktu bermain di luar. Kerusakan dan kelelahan mata ini berimbas pula pada pola tidur. Demikian yang akhir-akhir ini saya amati pada putri bungsu saya.


Usianya kini enam tahun. Masih di TK B. Di sekolah ia aktif bermain dengan teman-temannya. Akan tetapi jika di rumah, sudah dua minggu ini, dia lebih asyik menonton TV sendiri. Dia bilang tidak ada teman di luar. Memang, yang seumuran hanya ada satu anak saja di sekitar rumah. Itu yang menjadi alasannya memilih tidak main di luar. Tapi selama ini, dia sering main di luar, baik dengan adik-adik yang selisih usia satu, dua tahun, maupun dengan yang lebih tua darinya. 


Sayangnya, sejak ia lebih banyak menonton TV, jam tidurnya tidak teratur. Seperti mengalami sulit tidur. Hingga ia sendiri yang bercerita:

Umi, kalau adek belum tidur, adek sering memikirkan film yang adek tonton.

Dari sana saya berpikir, sepertinya ada kaitan antara apa yang dilihat oleh mata dan ditangkap oleh otak. Kemudian menjadikannya sulit tidur. Sepertinya saya melewatkan poin penting ini:

Dari mata turun ke hati.

Memang saya tetap memfilter dan mengamati setiap tontonannya. Melarang jika ia menonton acara orang dewasa. Akan tetapi, durasi kurang dibatasi. Maka, saya berinisiatif untuk menerapkan beberapa hal berikut, demi mengantisipasi keburukan lanjutan:

1. Mengurangi jam menonton TV-nya, dengan lebih banyak menemaninya bermain. Mungkin perlahan, dengan tetap menghidupkan TV, namun mengalihkan perhatiannya pada kegiatan lain.

2. Mengajaknya lebih banyak berkegiatan di luar rumah, sekadar ke warung atau menemaninya bermain di luar. Mungkin saja ia merasa tidak nyaman oleh seseorang atau sesuatu saat bermain di luar.


3. Berusaha untuk memberikan perhatian lebih padanya. Dengan pelukan, ciuman atau intensitas mengobrol lebih lama dan fokus.

Pada akhirnya, TV dapat menjadi boomerang bagi kita dan anak kita jika tidak dibatasi penggunaannya. Setiap hal harus sesuai kadarnya. Tidak berlebihan dan harus tetap di dalam kontrol sepenuhnya.


Semoga saya bisa menerapkan hal di atas untuk mengurangi dampak negatif TV terhadap anak saya. Hal terbaik yang seharusnya terjadi adalah anak menghabiskan waktu bersama kita, orang tuanya. Lebih keren lagi kalau bisa tanpa TV di rumah. Karena dengan begitu, dapat dipastikan anak-anak lebih membuat atau melakukan kegiatan kreatif demi membunuh waktu. Misalnya: membaca buku dan berkreasi menghasilkan seni, dan sebagainya.

Menurut Mom's bagaimana, nih?

18 Komentar

  1. Berhubung saya belum membiasakan menonton pada anak saya, jadi dia kalau tv nyala yaudah dibiarkan saja. Paling sesekali nengok kalau ad iklan yang gambar atau lagunya dia suka.

    Jaman sekarang kita sebagai ortu memang harus pintar2 menjaga anak agar tidak kebablasan menonton tv atau menggunakan gadget.

    BalasHapus
  2. Yap, memang harus ada aturan yg disepakati semua pihak.
    Ortu juga wajib membatasi nonton TV sih. Ga boleh binge watching Drakor juga hahahahah

    BalasHapus
  3. Setuju banget mb, sya sudah menerapkan batasan anak-anak menonton TV biar ga kebiasaan hihi semoga bisa seterusnya. Makasih infonya

    BalasHapus
  4. Memang TV sebagai andalanku ini mbak, apalagi libur sekolah karena pandemi corona. Punya anak 3 dengan ritme kebiasaan yg berbeda² membuat saya memilih tv dibandingkan hp. Tv kabel yang saya pilih. Tapi memang intensitas yang lama membuat jam tidur anak berubah, itu benar.

    BalasHapus
  5. Iya, memang kalau kelamaan enggak bagus juga buat anak. Saya pun membatasi jam nonton buat anak

    BalasHapus
  6. Saya menyediakan TV di rumah, tapi anak-anak justru enggak terlalu tertarik untuk nonton. Anak-anak saya kebetulan tipe yang mudah bosan, jadi lebih suka kegiatan yang banyak geraknya. Saya setuju banget dengan membatasi jam nonton dan memilih tontonan. Karena sekarang ini kartun pun enggak semuanya aman untuk ditonton anak. Kalau saya dan suami, selalu mendampingi anak-anak saat menonton, jadi kami bisa sekaligus memantau apa yang mereka lihat di TV.

    BalasHapus
  7. Anakku jarang nonton tv di rumah. Maklum chanel tv nya pada renyek. Jadi dia malah hobby mainan masak-masakan, boneka sama bangun kota.

    BalasHapus
  8. Idealnya memang waktu nonton tv dibatasi supaya anak kreatif mengisi waktunya dengan hal lain yang bermanfaat. Tapi saya jujur aja belum bisa hehehe.

    BalasHapus
  9. Memang idealnya anak menghabiskan banyak waktunya dengan orang tua, apalagi kalau masih kecil ya. Menonton televisi boleh saja, tapi harus dibatasi waktunya agar dia tak mengalami ketergantungan pada tayangan yang ada di televisi.

    BalasHapus
  10. kalo bisa mah jangan di kasih TV ya mba, saya sampai sekarang di rumah gak punya TV. niatnya nanti kalo ada anak emang biar gak seneng nonton TV atau main gadget, hehe

    BalasHapus
  11. Pengen banget bisa no TV di rumah. Tapi apalah daya masih belum sanggup. Baru aja ngelepas langganan tv channel, supaya bisa lebih membatasi waktu menontonnya.

    BalasHapus
  12. Alhamdulillah Mbak pas di awal nikah saya sudah sering banyak diskusi sm suami kalau tv lebih byk mudorotnya. Jadi alhamdulillah sekitar 2 tahun ini kita udh no tv samsek. Tentu ga instan perlahan2 kami tglnya benda2 kotak itu. Perbanyak dengar pendapat psikolog, ustad jg bahwa benda itu lbh byk minusnya. Ya akibatnya kita ortu mmg extra, gpp rumah berantakan, provide mainan sm buku demi explor energi mereka. Semangat ya mbak...smg bs membatasi waktu nntn anaknya

    BalasHapus
  13. Saya memang dengan TV/tontonan Youtube sih ada hubungan love and hate. Love kalau berbau edukasi dan islami atau masih nonton dalam wajarnya. Hate kalau sudah kebanyakan nonton, atau Youtube auto play video yang isinya kurang pas. Saya selalu batasi durasi sih selama ini. Alhamdulillah anak jadi mau stop sendiri. TV swasta ga pernah, karena rentan konten gak sesuai

    BalasHapus
  14. Setuju bgt... aktivitas menonton utk anak2 perlu d batasi. jenis tontonannya pun bgtu

    BalasHapus
  15. Saya ada TV dua, yang lama buat main game, ada TV bau buat nonton. Tapi jarang banget nyala...Mungkin karena saya dan suami juga jarang nonton TV jadi anak-anak ga ikutan
    Jadi kalau baoleh saya tambahkan selain tips yang dia atas, contohkan juga kita enggak terus-terusan nonton TV . Jadi anak bakal ngikuti nanti

    BalasHapus
  16. Sebaiknya memang anak dibatasi jam menontonnya, karena akan merusak mata dan membuat jadwalnya tidak teratur untuk belajar dan berkegiatan lainnya. Jika tidak dimatikan, mereka akan kecanduan ingin lagi dan lagi. Saya juga masih belajar disiplin mengatur jadwal nih Mba.

    BalasHapus
  17. Bener ni mbak, anak2 punya batasan screen time sesuai usianya

    BalasHapus
  18. Ada baiknya memang anak-anak dibatasi menonton layar televisi agar dari kecil paham batasan waktu dan tau mana yang layak tidaknya tonton untuk anak.

    BalasHapus

Silakan berkomentar dengan baik dan bijak. Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak 🤗