Alhamdulillah, akhirnya saya berkesempatan nonton film JOKER, Oktober 2019 lalu. Banyaknya review, baik yang berisi spoiler atau lebih ke larangan menonton bagi anak di bawah 17 tahun, membuat saya agak ngeri untuk menyaksikan langsung. Pasalnya, saya termasuk orang yang tidak suka film horor, termasuk film-film sadisme. 

Ya, tadinya bayangan saya, film JOKER ini, termasuk film pembunuhan sadis nan mengerikan. Namun setelah menonton, saya bisa bilang:


Film ini tidak semengerikan yang dibayangkan.

Penampilan JOKER dengan makeup-nya itu, tidak sepenuhnya mewakili isi film, meskipun TETAP TIDAK BOLEH DITONTON ANAK DI BAWAH UMUR!


SEDIH
Itu kesan pertama yang saya dapatkan saat mulai menonton film psikologis Amerika Serikat yang disutradarai oleh Todd Phillips ini. 

Ketika tokoh utama mengalami pembullyan bertubi-tubi. Awalnya saja, film ini dibuka dengan direbutnya papan sebagai alat penting dalam pekerjaan si Joker. Saat itu dia belum jadi Joker ya. Sebutan Joker itu ketika dia telah melakukan pembunuhan. Nah, di awal ini saja sudah ada adegan pemukulan pada tokoh utama. Nyeseg. Beneran nyeseg melihatnya.



Rasa sedih terasa lebih dalam, ketika saya tahu, ternyata si tokoh utama ini mengalami gangguan syaraf, yang mengakibatkan ia sulit menghentikan tawa. Hal ini sering membuat orang di sekitarnya salah paham. Bahkan menganggapnya tak waras. Karena penyakit ini, ia harus rutin berobat dan mengonsumsi tujuh butir obat. Seakan takdir begitu tak adil padanya. Makin dramatis dengan kerinduannya pada sosok seorang ayah.

Seandainya dia punya ayah seperti calon wali kota yg diimpikannya.

Ya. Dia dibesarkan tanpa kehadiran ayah. Bahkan lebih dari itu. Kerumitan hidupnya sungguh membuat ngilu hati. Begitulah, perasaan sedih terus meliputi hingga akhir film yang berdurasi 122 menit ini.

TERHARU
Itu juga kesan yang saya rasakan. Saya menilai kejahatan Joker adalah sisi gelap yang tercipta dari kelamnya kehidupan yang ia alami. Penyiksaan fisik dan tekanan psikologis sejak masa kecil, seakan mengendap bertahun-tahun, kemudian meledak pada saat situasi yang seakan mendukung. Terharu, karena pada dasarnya, seorang Joker adalah manusia yang bertanggung jawab, ramah dan penyayang. Adegan-adegan yang menggambarkan sifat-sifatnya ini yang membuat saya terharu.

NGERI
Tentu saja saya merasakan kengerian saat menonton film ini. Pasalnya ada beberapa kali adegan kekerasan, sadisme, bullying, dan anarkisme. Ada beberapa kali adegan pembunuhan. Dan ini sangat-sangat tidak untuk ditonton atau dilihat anak di bawah umur.
Apa lagi?
Lengkap. Perasaan saya campur aduk setelah menonton JOKER. Menurut saya, kamu harus nonton juga. Banyak hikmah yang bisa diambil dari menyaksikan kisah si Joker. Banyak sekali. Kalau kamu yang sudah nonton, apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar ya.

Kadang orang gila sesungguhnya, adalah orang waras yang tak mengerti kegilaan orang gila.

9 Komentar

  1. Suka.
    Aku juga suka film Joker ini. Aktingnya kawakan, bagus banget 👍

    BalasHapus
  2. Yups! Aku malah beneran ngira tokoh utamanya cacat tubuh. Keren lah aktingnya. Makasih udah mampir ya ��

    BalasHapus
  3. Aku juga sedih banget diawal film, melihat perlakuan orang-orang ke pemeran utama. Film ini banyak menghadirkan emosi saat menontonnya, mulai dari sedih, takut dan ngeri. Overall aku suka sama film ini.

    BalasHapus
  4. Kesan setelah menonton ini awalnya kita dibawa digiring dan masuk kedalam cerita dengan cerita yang pilu karena pembullyan bertubi tubi yang diterimanya dan alur ceritanya bikin campur aduk, beberapa berpendapat mengapa film ini ngeri atau ada review yang bilang kalo anak anak dan remaja dibawah usia 17 tidak disarankan untuk menonton film ini karena menurutku bisa lekat di ingatan kita dan mungkin bisa mempengaruhi psikologis yang bisa jadi ditiru oleh penonton. Apalagi anak anak dan usia remaja memiliki sifat rasa ingin tahu yang menggebu gebu.

    BalasHapus
  5. Banyak yang bilang kalo nonton film ini harus dengan kondisi yang baik dan tidak tertekan. Aku masih ingat sekali kutipan yang ramai beredar saat film ini lagi hits yakni orang jahat adalah orang baik yang tersakiti. Nah, kalo di postingan Mbak ini cukup berbeda yakni Kadang orang gila sesungguhnya, adalah orang waras yang tak mengerti kegilaan orang gila. Lebih suka kutipan ini.

    BalasHapus
  6. Film Joker memberikan pesan kepada aku bahwa setiap orang memiliki masalahnya masing2 yang mungkin atau tidak bisa disamakan dengan orang lainnya lagi. Cara menghadapinya tidak bisa juga disamakan, banyak hal yg mempengaruhi...kompleks bagt ya... semangat positif thingking💪

    BalasHapus
  7. Sedih, pilu. Aku nntn ini nangis loh, cengeng banget pokoknya akuuu. Tapi satu pesan yang kuterima. "Orang jahat itu ga ada, adanya kesempatan untuk berbuat jahat" dan semua karakter di film ini kasih kesempatan joker untuk berbuat jahat. Satu lagi, Kalo ada orang jhat sm kita, kita juga perlu aware perlu intropeksi, mungkiin ada yg salah dlm diri kita sendiri smpai orang berlaku jahat ke kita.

    BalasHapus
  8. Jadi penasaran...walau gak terlalu suka dengan film horror tapi tetap saja penasaran karena melihat spoilernya kayaknya film ini bagus..
    Jadi pengen nonton deh...

    BalasHapus
  9. Makasih sharringnya ya.. Soalnya film ini blm sempat saya tonton sudah abis masa tayangnya di bioskop mm

    BalasHapus

Silakan berkomentar dengan baik dan bijak. Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak 🤗