“Apa kalian bertengkar? Tanyanya lagi. Aku menimbang, apa harus mengatakan pada Ichwan bahwa kami putus, atau tidak? Tapi tentu teman-teman harus tahu. Terutama teman laki-laki, agar mereka dapat membantu menenangkan dan menyemangati Riyan.

“Kami putus. Kemarin,” jawabku. Ichwan menatapku tak percaya.

“Kenapa? Kalian terlihat baik-baik saja dan hubungan kalian baru berjalan satu bulan!” 
“Aku yang memutuskannya. Riyan tak bersalah, aku hanya ingin konsentrasi belajar. Kita mau ujian. Sayangnya Riyan tak bisa terima. Dia marah padaku.” Ichwan hanya melongo tak percaya. 

Aku tahu ia merasa prihatin dengan berakhirnya hubungan kami; Putus cinta, dan pertemanan pun retak bak kaca pecah seribu. Semuanya berakhir.


Sejak saat itu, aku kehilangan seorang teman. Riyan. Aku kehilangan senyumnya, kehilangan obrolan hangat dan diskusi-diskusi kami, kehilangan dirinya, semua tentangnya. Tak ada lagi Riyan yang menyapaku ramah. Tak ada lagi lesung pipit di pipi itu untukku. Tak ada lagi Riyan yang mau menjelaskan ulang pelajaran yang kurang kumengerti. Dia menjauh, hingga berteman menjadi hal yang mustahil bagi kami. Aku membenci semua ini. Namun tetap kujalani, kukuatkan sendiri.

Hingga hari pengumuman hasil ujian akhir tiba, seperti teman yang lain, aku juga menyiapkan baju untuk tanda tangan teman satu kelas. Kami pun mendaulat Bu Lela untuk ikut tanda tangan. Tadinya Beliau tidak mau, namun dengan bujuk rayu mendayu-dayu, akhirnya Bu Lela mau membubuhkan goresan di baju yang kami siapkan. 

Betapa bahagianya hari itu. Penuh senyum semringah semua penghuni kelas, termasuk Riyan. Aku senang dengan kelulusanku, namun jauh lebih bersuka cita melihat senyuman Riyan. Ia bahkan tidak berusaha menghindariku seperti biasanya. Ada perasaan hangat menjalari hatiku.

“Teman-teman jangan pulang dulu ya. Kita sama-sama foto di studio. Buat kenang-kenangan.” Hendra berkata dengan serius, karena keadaan kelas riuh, ia bahkan naik ke atas meja dan menggunakan buku digulung sebagai toa.

Aku tentu saja setuju. Begitu juga sebagian besar teman sekelas. Hanya beberapa orang saja yang kebetulan ada janji lain dan tak ikut berfoto. Tadinya ku pikir Riyan akan menolak bergabung karena aku ikut. Tapi dugaanku salah. Ia berkumpul dengan teman laki-laki lainnya, dan kami bersama-sama menuju studio. 

Lepas berpose beberapa gaya, kami memutuskan untuk berpisah di depan studio. Namun aku dan beberapa teman lain ingin jalan-jalan dulu keliling pasar. Tak ku sangka, Riyan dan dua orang teman laki-laki lainnya ingin ikut bersama kami. Jadilah kami berjalan tak tentu arah dan berfoto di beberapa tempat.
Riyan masih tak menegurku, begitu juga sebaliknya. Aku merasa bingung harus bicara apa. Namun setidaknya, hari ini, hari terakhir kami berkumpul di kelas 3 IPS 1, menghapus sedikit rasa tak nyaman antara kami berdua. Satu atau dua kali, aku mendapati senyuman lesung pipit itu, tanda tangan dengan tanggal lahirnya, terukir manis di baju yang kusiapkan khusus—bukan baju yang kupakai—dan aku bahagia.

Kudengar, ia juga sudah meminta maaf kepada Bu Lela atas tindakannya memukul papan absen saat bagi rapor lalu. Kulihat, beberapa teman lelaki sekelas juga terus mendukungnya, hingga wajah cerah itu kembali terlihat. Aku sungguh bersykur mempunyai teman satu kelas yang solid. Kami seperti satu keluarga. Saling memerhatikan, saling mengingatkan dan saling membantu satu sama lain. Kenangan yang mungkin berpuluh tahun nanti, tetap akan manis diingat.


Sayangnya, tak pernah kukatakan permohonan maaf pada Riyan. Meski hatiku ingin, nyatanya bibir tak mampu berucap. Aku tahu akulah yang salah. Tapi aku menutup mata dan membiarkan semua menghitam.


Di ujung masa sekolah, di akhir seragam putih abu-abu, aku menorehkan luka pada hati seseorang. Membuat rasa bersalah terus menjalari jiwa. Masa yang bahagia, namun berselimut kelam di sisi perasaan yang lain. Sebab tak pernah lurus seperti semula dan tiada kembali sempurna yang telah retak.
Di ujung masa sekolah, ada cinta yang terpaksa pupus. Terganti dengan rasa sakit dan kebekuan. Mungkin kami masih saling menyayangi, namun ego mencipta jarak, membuat kami jauh dan makin terpisah. Apalah daya, ketika takdir berkata demikian; renjana tak berpaut, hingga bertahun-tahun kemudian aku masih kehilangan jejaknya. ***



6 Komentar

  1. Cerpen yang menarik. Cinta memang tak pernah habis kisahnya, maka tema cita dalam fiksi selalu menarik, katanya. Menunggu cerpen berikutnya ah.

    BalasHapus
  2. Apakah hubungan itu bisa berlanjut..??

    Selain ego mungkin keraguan yang tak bisa menuntun cinta. Menjadi terajut kembali.😊😊

    Meski baca kebagian pertama dulu nih..😊😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa saja berlanjut. Karena takdir bisa menentukan sampai pada hal yang tak terduga.

      Silakan baca dari part awal agar lebih utuh ceritanya.

      Terima kasih sudah mampir.

      Hapus
  3. bener sih ini, cinta masa SMA itu kalo pas kuliah lama lama lepas hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Namanya juga cinta monyet he he. Belum punya orientasi jelas mau dibawa ke mana. Tapi ada juga sih yang langgeng sampe nikah.

      Hapus

Silakan berkomentar dengan baik dan bijak. Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak 🤗