Rabu, 13 Februari lalu saya dan kedua putri saya pergi ke kota Baturaja menggunakan kereta api. Mudik lah bahasa kerennya 😁 Perjalanan dimulai dari stasiun Kertapati Palembang, karena saya sekeluarga berdomisili di Palembang, sementara orang tua saya di Baturaja.

Biasanya kami mudik menggunakan mobil. Butuh lima sampai enam jam perjalanan, jika ditambah dengan istirahat sejenak. Kalau dulu, naik mobil travel (L300) bisa empat jam perjalanan saja. Tapi itu dulu. Jaman kuliah. Mobil dan motor belum sebanyak sekarang dan dengan kecepat mobil travel yang memicu adrenalin.

Sebenarnya saya paling malas kalau harus bepergian membawa anak-anak naik kendaraan umum. Tentu karena risikonya dan repot. Apalagi membawa balita. Sejak menikah, hampir bisa dipastikan, jika saya bepergian selalu didampingi suami.

Namun kali ini berbeda. Suami tidak bisa menemani saya mudik. Dia harus bekerja dan dua anak yang lain mesti sekolah. Sulungku kelas lima dan 'gadis' besarku kelas dua SD. Mereka tidak libur dan suami tak mungkin mengambil cuti.
Berbekal bismillah dan rasa bahagia membayangkan akan bertemu ayah, ibu dan keponakan-keponakan kecil di sana, akhirnya saya memutuskan untuk mudik dengan membawa kedua putri kecil kami: Almira berusia enam tahun dan Arumi masih dua bulan.

Baca juga: GOA PUTRI, Bebatuan Elok Terpahat Menawan

Memang tujuan utama kepulangan ini karena pada besok harinya, 14 Februari, saya harus mengikuti tes CPNS. Tepatnya tes SKD (Seleksi Kompetensi Dasar). Sebenarnya pengalaman tes sebelumnya, Kabupaten di Sumsel yang membuka lowongan CPNS, tes SKDnya di Palembang. Namun ternyata kali ini, khusus kabupaten OKU Induk, tempat saya memilih formasi, mengadakan tes di OKU Induk, yakni di Baturaja. Jadilah saya harus 'berjuang' untuk menjalani tes tersebut dengan mudik bersama Almira dan Arumi.

Tadinya suami ingin kami naik mobil travel. Tapi saya bersikeras untuk naik kereta api saja. Tentu dengan pertimbangan yang menurutku akan lebih nyaman dengan kereta api.

Berikut ulasan saya mengenai Plus Minus Naik Kereta Api Indonesia: Pengalaman Perjalanan Palembang-Baturaja Sumatera Selatan.


KA Ekspres Rajabasa (Ekonomi C)
Kami bertiga mudik dengan kereta api kelas ekonomi C, begitu yang tertulis di e-tiket. Yakni kereta api ekspres Rajabasa. Seingat saya, kereta yang kami naiki ini terdiri dari lima gerbong. Itu karena kami mendapat--memilih--tempat duduk di gerbong satu. Maka empat gerbong sebelumnya kami lewati sebelum masuk ke gerbong satu.

Buy tickets in the Shopee app
Sebelumnya, saya membeli tiket melalui aplikasi Shopee. Saya order pada 1 Februari, 12 hari sebelum jadwal berangkat. Saya langsung membeli tiket PP (pulang pergi), total seharga 131 ribu, dengan cashback dari shopee 25 ribu. Tetep ya, khasnya emak-emak: cari diskonan, cari gratisan, cashback juga gak nolak 🤣

Tiket KA hanya bisa dibeli dengan memasukkan nomor identitas resmi, yakni nomor KTP atau KK. Anak di atas satu tahun, wajib beli tiket. Jadilah saya membayar seharga dua tiket dengan data tiga orang penumpang. Arumi belum dikenakan biaya tiket tentunya. Namun data yang dimasukkan harus sejumlah penumpang yang akan naik. Untuk Almira dan Arumi, saya menggunakan nomor KTP saya juga untuk pendaftaran.

Tiba di Stasiun Kertapati Palembang masih sangat awal, pukul 07.00. Sekalian ikut suami mengantar kakak Harits sekolah. Sementara jadwal keberangkatan kereta pukul 08.30. Saya pikir akan 'berat' menunggu satu jam lebih itu. Mengingat saya bersama Almira dan Arumi. Tapi tidak demikian yang dirasa. Jiwa blogger saya penyebabnya 😆 Sementara menunggu, emak dan anak sama aktifnya. Almira ke sana ke mari menikmati suasana stasiun, saya sibuk foto-foto buat bikin postingan ini. Sayangnya tidak sempat ambil foto depan stasiun dan tempat cetak tiket. Untungnya Arumi tidak rewel.

Baca juga: Jalan-jalan itu Menyenangkan

Fasilitas yang ada di Stasiun Kertapati Palembang dan prosedur sebelum keberangkatan

1. Membayar parkir
Saat akan memasuki area Stasiun Kertapati, kami diwajibkan membayar biaya parkir sebesar RP. 3000,- (motor). Area parkir cukup luas juga, mulai dari palang parkir sampai ke depan pintu masuk, semua bisa menjadi tempat parkir. Tapi khusus di depan pintu masuk ke arah pembelian tiket, customer service dan cetak tiket, tidak diperbolehkan memarkir kendaraan, hanya untuk menurunkan penumpang saja.

2. Mencetak e-tiket menjadi tiket fisik yang resmi

Pertama kali saat masuk ke dalam stasiun adalah mencetak e-tiket menjadi tiket fisik menggunakan mesin pencetak tiket. Bisa discan bar kode di e-tiket yang kita punya (saya dapat dari aplikasi shopee) atau dengan memasukan nomor kode booking.

Ada dua unit mesin pencetak tiket di sini. Dengan dua orang pramuniaga yang rapi, ramah dan cantik. Saya yang susah bergerak karena menggendong Arumi, membawa tas ransel besar, dan menggandeng Almira, sangat kerepotan tentunya. Sehingga Pramuniaga tiket berinisiatif cepat membantu. Suami langsung pergi karena ada pekerjaan sangat penting. Sehingga tidak bisa mengantarkan saya sampai ke dalam.

Saya menunjukkan e-tiket di gawai dan langsung discan menggunakan alat khusus scan. Selepasnya, tiket akan otomatis tercetak. Karena tidak mau repot, saya minta cetakkan tiket pulang sekalian. Tinggal menyimpan tiket dan tidak perlu mengantri lagi.

3. Membeli oleh-oleh
Terdapat kantin atau toko di dalam stasiun yang menjual kerupuk dan kemplang khas Palembang. Ada juga souvenir lainnya. Saya tidak tahu berapa harganya, tapi untuk yang kepepet tidak sempat beli oleh-oleh, toko ini bisa menjadi solusi. Ada banyak macam kerupuk, kemplang, souvenir yang dipajang.

4. Scan tiket fisik di pintu masuk ruang tunggu steril
Sebelum masuk ke ruang tunggu steril, saya harus kembali mengantri. Meski tergolong masih pagi, tapi sudah banyak orang yang datang seperti saya. Di pintu ini petugas mencocokan identitas di tiket (KTP) dengan orangnya. Jadi jangan lupa bawa KTP atau KK ya.

5. Masuk ke ruang tunggu steril

Mengapa saya bilang steril? Karena yang boleh masuk hanya yang punya tiket KA. Di ruang tunggu ini terdapat fasilitas yang menurutku oke punya!

Ada toilet. Tapi saya tidak tahu kebersihannya. Saya tidak masuk. Melihat dari tampilan luarnya sih, cukup meyakinkan.

Ruang khusus rokok dengan atap terbuka. Meski ruang tunggu yang luas itu tidak ber-AC, tetap disediakan ruang khusus untuk yang mau merokok. Jempol deh untuk KAI.

Ruang tunggu yang luas dan nyaman. Disediakan juga troli untuk mengangkut barang sampai ke kereta.



Charging corner, Setidaknya ada tiga charging corner yang disediakan di ruangan tersebut. Gak bakal kekurangan deh menurutku.



Terdapat dua Photo booth area. Sayangnya yang kereta terlalu tinggi. Almira tidak muncul jadi 'masinis' meski sudah menaiki tangga yang disediakan di dalamnya 😂 Harus digendong orang dewasa. Nah untuk photo booth instagram, untung masih kelihatan kepala Almira 😆


Area bermain anak. Meski tidak terlalu luas, tapi sudah sangat cukup menjadi hiburan buat anak selama menunggu kereta siap dinaiki. Tahu kan anak-anak? Cepat bosan dan selalu aktif. Area bermain ini sangat membantu emak-emak membawa anak seperti saya tentunya.

Disediakan juga ruang khusus menyusui, pos kesehatan, dan pos keamanan. Namun saya tidak explore ketiga ruangan ini. Tidak sempat. Keburu KA siap dinaiki.

6. Keluar dari ruang tunggu steril menuju kereta. Perhatikan jalur yang mana ya. Kalau tidak salah, ada 10 jalur kereta yang memiliki tujuan berbeda.



7. Masuk gerbong dan pilih tempat duduk sesuai dengan yang tertera di tiket.

8. Selalu awali perjalanan dengan bismillah dan doa keselamatan.

Plus minus KAI Kelas Ekonomi C Palembang-Baturaja

Kelebihannya: 
☆ Pelayanan di stasiun KA Kertapati Palembang ramah terutama yang nungguin cetak tiket dan pramuniaga di kereta.

☆ Sarana prasarana memadai, 

☆ Ruang tunggu yang nyaman dan bersih,

☆ Kereta bersih, 

☆ Wc kereta banyak air, 

☆ Tidak sumpek lagi dengan para penjual, tertib karena tiket jelas sehingga tidak rebutan tempat duduk.

☆ Harga murah dengan fasilitas yang 'mewah'. Perbandingan jika naik mobil travel AC, ke Baturaja butuh 90 ribu untuk satu orang. Sementara KA cuma 33 ribu saja.

☆ Ada sewa bantal 10 ribu harganya.

☆ Makanan bisa dipesan via whatsapp. Keren kan 😁 kalau pun mau pesan langsung bisa banget, pramuniaganya siap melayani dengan ramah. Atau langsung ke resto juga bisa.

Baca juga: Palembang: Kunjungi Dua Museum ini! Terasa Sumselnya

Kekurangannya: 
Minus paling besar bagi saya adalah TIDAK BOLEH ADA YANG MENGANTAR SAMPAI KE KERETA. Tidak boleh masuk ke ruang tunggu steril yang tidak berangkat atau tak punya tiket. Kalau keberangkatan dari Palembang, saya tidak begitu terbebani. Karena suami memang tidak bisa mengantar. Mau tak mau saya harus SANGAT BERSUSAH PAYAH menenteng ransel berat di belakang, menggendong Arumi (4,5kg) dan menggandeng Almira. Sementara berat badan saya di bawah 40kg. Sangat berisiko sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi?

Nah yang sangat mendongkolkan ketika tiba di Stasiun Baturaja. Berangakat pukul 08.30 tiba pukul 12.00. Ayah tidak diperbolehkan masuk ke dalam Stasiun (ke kereta) untuk menjemput saya. Meski ibu dan ayah sudah meminta izin dan menjelaskan keadaan saya kepada petugas keamanannya. Malah dia bilang: 

"Semua orang bawa bayi, Bu." Otomatis ibu jadi emosi. 

Saya yang kelelahan menempuh perjalanan empat jam dengan memangku Arumi sepanjang perjalanan dan mengawasi Almira, benar-benar membutuhkan bantuan. Tapi melihat ibu sudah sewot, ya sayanya harus senyum menenangkan beliau.

Saat pulangnya, kembali kejadian serupa terjadi. Adik saya tidak diperbolehkan membawakan tas saya naik kereta. Ya Allah...


Rasanya kok manusia jadi tidak manusiawi karena sebuah peraturan. 


Beruntung sekali, saat turun, seorang pemuda yang duduk berhadapan dengan saya, bersedia membantu membawakan tas saya. Sungguh terharu dengan kebaikannya. Saya tidak meminta, dia sendiri yang berinisiatif. Dia dari Lampung dari ikut Tes CPNS juga. Sayangnya dia tidak lulus SKD kali ini. Saya doakan kamu dapat rejeki dan kemudahan dalam menjalani hidup ya, Dik. Aamiin....

Wc di kereta bau. Bukan karena kekurangan air. Tapi karena wc umum. Orang yang menggunakan kurang bertanggung jawab. Tidak siram dengan baik. Jadinya bau.

Makanan di kereta cukup mahal. Nasi goreng, nasi ayam dihargai sekitar 25 ribuan. Lays, chitato dihargai 15 ribu. Air mineral 500ml 5 ribu. Kalau beli di luar harganya lebih murah dari itu.

Tidak boleh membeli bangku lebih untuk anak di bawah 1 tahun. Nah ini juga kekurangan yang menurut saya sangat memberatkan. Memang bayi atau anak bawah satu tahun bisa dipangku. Tapi perjalanan akan jauh lebih nyaman tentunya, jika mereka bisa punya bangku sendiri. Bisa ditidurkan atau didudukkan tanpa mengganggu yang lain. Pegel tangan pemirsah, pegel bahu gendong Arumi empat jam 😣



So far, banyak kemajuan positif KA sekarang dibanding KA dulu. Ketersediaan AC dan charging di dekat tempat duduk masing-masing sangat membantu dan memberi kenyamanan pada penumpang. Kalau dulu, kereta terasa panas. Sekarang sejuk. Dulu ke WC mesti bawa air sendiri, sekarang tidak. Tidak ada rebutan tempat duduk lagi, karena yang sudah beli tiket meski naik dari stasiun antara Kertapati-Rajabasa, tempat duduknya tak akan diisi dan tak boleh diisi orang lain. Kalau dulu, meski ada tiket, tetap harus cari tempat duduk kosong. Kalau gak dapat ya nasib, berdiri.

Akan tetapi, kekurang mendasar bagi saya adalah pengantaran dan penjemputan ke gerbong. Semoga pihak KAI mempertimbangkan hal ini lagi. Setidaknya ada pengecualian untuk penumpang yang rempong seperti saya. Kalau bisa, saya juga gak mau bawa banyak barang. Tapi ini baby. Mana bisa bawa pakaian pas-pasan. Emak-emak pasti paham lah ya. Mungkin pihak KAI bisa memberikan kelonggaran untuk penumpang terntentu agar boleh di antar sampai ke gerbong. Katanya ada pramuniaga yang akan membantu, tapi nyatanya tak ada satu pun petugas seperti yang disebutkan itu, yang bisa saya mintai tolong.

Demikian pengalaman saya menggunakan Kereta Api Palembang - Baturaja. Semoga membantu bagi yang belum pernah naik kereta api  sekarang. Dan berharap tulisan ini sampai ke pihak KAI.

20 Komentar

  1. Kereeeen bisa mudik bareng anak2 kecil tanpa suami. Udah kebayang repotnya. Sebenernya serba salah juga kali yaa, krna pihak stasiun juga takut jadi yang meminta keringanan. Ditakutkan ada orang lain juga yang minta kluarganya masuk dengan alasan "ibu itu bisa kenapa saya ngga?"

    Tapi... Kalau jawaban dri petugas keamanannya kaya gtu sih kujuga emosiiiii wkwkw

    Mungkin solusinya satpam bisa bantu untuk bawa barang2 yang kita bawa apalagi kalau lihat kita sudah kerepotan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selain itu, gak ada salahnya sih menurutku untuk keluarga mengantar sampai kereta. Karena mereka akan berpisah dengan orang yang dicintai. Kadang belum lega kalau gak sampe berangkat.

      Hapus
  2. Kebetulan kereta api salah satu moda transportasi yang aku suka Mba, baru sadar kalo di st. Kertapati ada space bermain untuk anak-anak.. Stasiun-stasiun sekarang sudah cukup nyaman menurutku.

    Tapi.. membayangkan Mba, berpergian dengan 2 anak dan barang bawaan, sedangkan tidak ada yang boleh nganter dan jemput sedekat mungkin, kebayang banget ribetnya, apalagi kalo lagi capek.. Semangat terus ya Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pengalaman yang asyik juga sih. Karena gak pernah pergi sendiri tanpa suami gitu. Jadi sesuatu yang beda. Cuma gak leluasa ambil foto dan bergerak karena ada buntutnya haaa

      Hapus
  3. Waduh, repot juga kalau begitu ya. Aku juga pernah berangkat dengan anak bayi dan tahu sekali repotnya kalau tidak boleh membeli kursi dan mengantar tidak boleh sampai ke dalam. Tapi kalau pakai stroller bisa ga mbak? Maksudnya sampai di kereta Stroller baru dilipat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh mb pake stroller. Tapi ya itu, sama aja. Belum bawa barangnya. Ditambah bawa stroller juga.

      Hapus
  4. Setidaknya risiko mabuk perjalanan dapat diminimalisir dengan moda transportasi kereta api yg jauh lebih nyaman. Soal bawa anak batita ya bawa mobil sendiri aja perlu persiapan ekstra apalagi transportasi publik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Badan juga gak capek seperti naik mobil. Persiapin sih gak ada masalah. Gak ada yang bantu bawa barang yang jadi masalah. Bawa dua anak juga. Resiko sih, tapi akan sangat terbantu kalau boleh nganter sampe ke kereta.

      Hapus
  5. Pengalamanku pertama naik kereta juga ke Baturaja lebih dari 10 tahun lalu. Masih belum ada perbaikan. Kereta ekonomi tanpa AC, berhenti lama, panasnya ampun haha. Sekarang udah keren banget! dan aku udah berapa kali bolak-balik Lampung.

    Cuma memang paling nyaman kelas eksekutif. Kalau kelas bisnis tanggung. Harga selisih dikit, kenyamanan beda jauh hahaha. Semoga PT.KAI semakin berinovasi, yes!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pernah juga naik kereta malam ke Tanjungkarang. Enak dan lebih nyaman memang. Tapi harganya jauh juga. 150rban kalo gak salah. Sandaran kursinya bisa diputar hadap depan belakang. Sewa bantal lebih mahal 5rb dari ekonomi. Tapi gak tau itu kereta apa. Gak sempat memperhatikan karena sedang berduka.

      Hapus
  6. duh jadi pengin naek kereta juga sambil cerita pengalaman sbg disabilitas, kira2 kai punya fasilitas lengkap gak ya? waktu itu ke stasiun kertapati cuma jingok dari luarnyo be ado trail untuk disabled..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo kursi roda ado Mbak. Ado nenek-nenek pake kursi roda pas balek dari Baturajo itu. Sampe ke depan Stasiun. Depan pintu keluar. Tapi masih dalam pagar. Dak lamo, di ambil petugas kursi rodanyo. Dak tau kalau fasilitas lainyo.

      Hapus
  7. Yaoloh udah banyak berubah sejak terakhir saya naik kereta apo 6 tahun lalu.Beberapa bagian terutama interior dalam gerbong dan fasilitas stasiun udah kece banget yak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asli Mbak. Asyik sekarang. Makanya berani bawa baby 😁

      Hapus
  8. Dulu naek kereta api itu sering banget. Sebab Kereta Api adalah moda transportasi massal yang terjangkau bagi mahasiswa macam ini, dulu masih mahasiswa. Sekarang, kereta api juga berkembang, semakin nyaman. Kapan ya bisa ke rumah adik saya di Baturaja by kereta api, kayaknya asyik nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Agendakan Mbak. Baturaja dimananya? Siapa tahu kenal.

      Hapus
  9. Aku sama sekali belum pernah naik kereta api buat perjalanan jauh. Dulu oas kuliah naik kereta Palembang Inderalaya aja. Hahahaha. Baca ini enal bener kayaknya naik kereta ya. Ada plus minusnya. Nanti kucoba deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Patut dicoba lho. Tapi kalau jauh sampe seharian kaya ke Tanjung karang, bosan juga sih. Kecuali kalau banyak tidur. Tau2 nyampe aja 😁

      Hapus
  10. Aku senang bepergian dengan kereta kalau ke Jawa (dari jakarta)
    lebih berasa nggak capek.

    Belum pernah naik KA yang dari Kertapati jadi dak tahu, tapi men sepengalaman, toilet kereta termasuk bersih pas awal2 berangkat
    \kecuali men ado penumpang yang kencing sembarangan, dak masuk lubang di tengah jalan

    soal makanan, men 25 ribu di Jakarta termasuk murah, beda jadi perbandingan hargonyo hehe

    Soal beli tiket buat anak kecik, aku pernah kok beli tiket lebih cak itu, biar anakku yang setahunan duduk dewek. Tapi yo umurnya dak diisi sebenarnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah masukan baru ini. Beli tiket tanpa umur. Atau pake umur ayuk atau kakaknyo. Sempat terpikir. Tapi takut bermasalah. Next time nak cakitu bae 😅

      Iyo. Pas pegi kereta fresh and clean. Termasuk WC. Memang penumpang yg buat kotor itu. Padahal banyu lah banyak.

      Hapus

Silakan berkomentar dengan baik dan bijak. Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak 🤗