Style tribun new


Beberapa waktu lalu, pada minggu pertama pemutaran film Ipin & Upin: Keris Siamang Tunggal, saya sempat nonton. Banyak kisahnya yang 'mirip' sama cerita rakyat Indonesia. Saya bilang 'mirip' ya bukan sama, sebab ada beberapa kisah yang alurnya berbeda, terbalik gitu. Misalnya cerita Bawang putih dan Bawang merah, dalam film ini, yang baiknya Bawang merah.

Kompas dot com

Ada nyebutin Pak belalang juga. Di Indonesia ada juga cerita rakyat Pak Belalang. Kisah Batu betangkup pun mirip dengan kisah yang sejak kecil saya dengar. Miripnya di batu belah betangkup yang bisa ‘makan’ manusia. Beda kisah sih kalau di film ini. Tapi pernah juga nonton di TV, Atuk sedih karena layang-layangnya dirusak Si Ipin & Upin. Dia bilang,

“Batu belah, batu betangkup, makanlah aku, telanlah aku. Aku nak cari cucu baru....” Ada yang pernah nonton bagian ini? Bagian yang mirip dengan cerita versi saya kecil mengenai batu betangkup, tentang seorang ibu yang bersedih karena anak-anaknya dan memilih menghilang masuk ke dalam Batu Betangkup.

Kesenian Wayang kulit juga ada. Mirip lah dengan kita Indonesia. Cerita Sangkuriang anak durhaka pun ada. Lebih diperdalam dari segi ibunya Sangkuriang. Entah penambahan, atau memang begitu versi Malaysia saya kurang tahu. Yang jelas kalau cerita di Indonesia cuma bahas Sangkuriangnya aja.

Tribun Batam

Kerisnya juga mirip dengan senjata khas Indonesia. Terutama Jawa. Satu lagi ada Pak Jenin (si pembual). Mirip sama Indonesia juga ada kisah-kisah si pembual.

Mungkin karena kita satu rumpun, bukan hanya dari bahasa saja yang mirip, cerita rakyatnya dan keseniannya juga banyak yang hampir sama. Kalau nonton di telivisi, permainan anak-anak dan keseharian film Ipin dan Upin ini juga banyak yang sama dengan kehidupan rakyat Indonesia.

Jadi ingat waktu ke Malaysia dulu, saya berkunjung ke Kuala Lumpur. Sayangnya saya tidak menemukan perkampungan seperti yang ada di film Ipin Upin. Malah seperti terkotak-kotak dan tak seramah di film. Mengingat ada tiga etnis besar di Kuala Lumpur: Melayu, Cina dan India. Dan mereka memiliki perkampungan sendiri-sendiri seperti itu. Seperti swalayan atau mallnya, ada pusat perbelanjaan Mydin lebih ke India, China Town, dan untuk khusus melayu, saya hanya menemukan ketika pertemuan seluruh negara member Avail saja. Di mall juga ada sih, biasanya bergerombol. Yang membedakan ya bajunya, baju khas yang selalu terlihat bersahaja, baju kurung.
Guide-nya aja bilang,

“Bapak-bapak, Ibu-ibu, mohon jangan tanyakan di mana rumah Kak Ros dan Ipin Upin ya. Saya sendiri gak tahu. Itu tidak ada.” Nah lho, saya kecewa. Tapi ya apa boleh buat. Sepertinya itu kenyataannya.
Padahal berharap juga lihat rumah-rumah kayu yang mirip di Indonesia itu. Yang ada komplek-komplek perumahan rapi yang terkesan dingin. Dari kejauhan saya lihat juga rumah susun berkotak-kotak, katanya kebanyakan mahasiswa yang menempati.

Jujur, saya pengen backpacker ke Malaysia lagi lho. Kaya Mbak Azzura Dayana sekeluarga. Tapi belum berani, karena masih bingung mengartikan bahasa melayunya itu. Walau pun mirip, kalau bicaranya cepat dan dengan logat khas melayu, saya gak paham pemirsa. Terus terang, pengen punya teman Malaysia 😍

Oke lah, ini review santai ala saya terhadap film Ipin & Upin: Keris Siamang Tunggal. Film yang bikin saya merasa jadi rada bingung, kalau sebanyak itu kesamaan, eh kemiripannya, kenapa Malaysia dan Indonesia jadi satu aja ya? He he he, pikiran gak jelas. Abaikan pemirsa 😁



0 Komentar