Vero Gian, Kakak yang tak pernah kusangka akan secepat ini kembali kepada Alloh SWT. Ia kakak sepupu dari keluarga ibuku. Putra dari Ayuk tertua ibu. Merupakan anak ke-4 dari 5 bersaudara. Lahir pada tahun 1979 dan meninggal dunia Sabtu, 23 Maret 2019.

Kak Viro, Uak Kos,
Uak Wili dan
Wak Yant
Kecelakaan maut merenggut kebersamaannya dengan kami. Memutuskan jumpa yang selamanya tak akan pernah terjadi dalam dunia ini. Menggantung rindu yang datang dalam hari-hari kedepannya.

Kak Viro dan Uak Wili
(Ibu tercintanya)
Dia lah yang pertama kali mengajakku naik mobil pribadi. Betapa kikuknya aku, sebab dulu, rasanya hal itu sangat mewah. Dia orang pertama yang memintaku menjadi mak comblang, sementara aku sebegitu lugunya.

Dia yang sanggup memeluk adikku yang tengah berlumur darah kala kecelakaan dulu. Dia yang bahkan memberi sumbangan darah penyelamat pertama.

Dia yang sering ke rumah memanggil "Bibik" atau "Mamang" pada ayah dan ibuku. Sekedar mencari kunci mobil untuk dipakainya, atau sekedar berkeluh kesah tentang masalah-masalah keluarga. Mobil biru itu terbengkalai sudah, truk kuning ini tak akan pernah lagi ia pakai. Ya Alloh... rasa sesak mengingat bahwa ia telah tiada.

Aku bahkan menolak mentah-mentah kabar via whatsapp tentang kematiannya. Meski begitu saja air mata mengalir, tubuh seketika bergetar dan berusaha mencari kepastian yang sudah pasti. Aku berharap Vero itu bukan Vero yang kukenal! Aku berharap info itu hanya main-main! Namun kenyataan tetaplah kenyataan 😭

Pulang kali ini tak ada bahagia yang tersisa. Semalaman menangis sampai mata bengkak. Suami langsung berinisiatif mengajak mudik. Tanpa persiapan dan berselimut hampa. Aku menguatkan diri, untuk berkomitmen tidak menangis lagi di depan keluarga besar. Aku harus tegar untuk memberikan ketegaran pada Uak, ayuk dan kakak lainnya.

Aku tak sempat melihat jenazahnya. Orang bilang wajahnya tenang seperti tengah tertidur. Ya, kakakku tertidur lelap kini.... Hanya seonggok tanah merah basah yang dapat kujumpai. Bau bunga masih wangi semerbab. Nisan kayu terpatok sudah dengan ukiran namanya. Ini kenyataan!

Masih terngiang suaranya, terngiang tawanya, teringat senyumannya. Sungguh aku tak pernah siap atas kepergiannya 😢😢😢

Kepada semua yang mengenal dirinya, kumohon dengan sepenuh hati, maafkan segala kesalahan kakaku Vero Gian. Karena kusadari sepenuhnya, sebaik apapun dia dimataku, dia hanyalah manusia biasa dengan segala kealpaannya.

Jika ada aib, mohon bantu menutupinya. Sebab kami ahli musibah ini, sakit beribu kali mendengar cerita buruk tentangnya, entah yang memang benar atau pun tidak. Bantu kami mengenang hanya kebaikannya saja 🙏🙏🙏

Doakan kami mampu bersabar dan mampu mengikhlaskan ketiadaannya.

Kepada adikku Septa, ikhlaskanlah kepergian kakak. Kita doakan amal ibadahnya diterima Alloh dan dilapangkan kuburnya. Jadilah muslimah yang taat, sebab insyaalloh, kebaikan yang kau buat, akan mengalir sebagai pahala baginya.











0 Komentar