Ubaya.ac.id

Hukuman dan hadiah/reward sudah tidak asing lagi dalam dunia pendidikan. Baik pendidikan formal di sekolah maupun pendidikan dalam ruang lingkup keluarga, yakni orang tua mendidik anaknya.

Namun demikian, baik pendidik maupun orang tua masih kerap salah dalam penerapannya. Hukuman sering diartikan 'pembalasan dendam' atas pelanggaran anak. Bahkan tak jarang hukuman dimaknai sebagai 'penyiksaan' fisik agar menimbulkan efek jera. Demikian juga pemberian hadiah/reward. Kebiasaan buruk yang terjadi adalah memberikan hadiah/reward yang berlebihan. Mengakibatkan anak lebih fokus pada pencapaian reward dari pada proses.

Maka bagaimana seharusnya penerapan hukuman dan hadiah/reward ini agar penggunaannya tepat sasaran?

Dalam buku Prophetic Parenting ; Cara Nabi Mendidik Anak (276), disebutkan bahwa hukuman adalah salah satu cara mendidik anak. Namun pendidik atau orang tua harus mampu memilih hukuman dan cara menghukum yang pantas. Terapkan hukuman sesuai dengan kesalahan anak. Maka yang harus dipahami adalah bagaimana mengoreksi kesalahan anak. Kesalahan anak ada tiga macam : kesalahan yang dilakukan karena kesalahan dalam pemahaman anak pada suatu hal, kesalahan anak dalam aplikasi pemahamannya, dan kesalahan pada diri anak (unsur kesengajaan).

Intisari.grid.id

Jika anak melakukan kesalahan karena pemahamannya yang salah, maka luruskan pemahamannya terlebih dahulu, namun tetap berikan ia hukuman untuk memperbaiki akibat kesalahan yang ia perbuat. Jika anak melakukan kesalahan dalam aplikasi atau tindakannya, maka ajarkan padanya bagaimana seharusnya tindakan yang benar. Namun tetap memberikan kewajiban padanya untuk memperbaiki 'keadaan' atas kesalahan yang ia lakukan. Kemudian jika anak melakukan kesalahan dengan unsur kesengajaan, berikan ia penekanan penjelasan sebagai pengingat dan hukuman jelas yang sedikit keras sebagai penegasan atas kesalahannya. Akan tetapi, poin dasar hukuman tetaplah mendidik.

Lalu bagaimana dengan pemberian hadiah/reward pada anak? Hadiah itu menyenangkan dan menyemangati. Sangat efektif melahirkan potensi anak. Hadiah dapat menjadi motivasi jika anak tertarik pada hadiahnya, namun menjadi tidak berguna ketika anak tidak menginginkannya.

Hadiah/reward diberikan sebagai penghargaan atas apa yang dicapai oleh anak. Kesalahan sering terjadi karena pemberian hadiah/reward tidak sesuai dengan apa yang diingini anak. Oleh karena itu, sebagai pendidik dan orang tua harus memahami jiwa anak. Mengenali kesukaannya dan tahu apa yang tidak disukainya. Dan tidak boleh berlebihan dalam memberikan hadiah jika hadiah dalam bentuk benda. Selain itu juga harus memperhatikan proses pencapaian atau bagaiaman usaha yang dilakukan anak untuk mendapatkan hadiah tersebut. Karena hasil yang baik jika dengan cara yang tidak baik, artinya anak tidak layak mendapatkan hadiah. Karena pada dasarnya, dalam dunia pendidikan, bukan hanya hasil yang diperhatikan tetapi proses yang baik, proses yang jujur juga merupakan tujuan.

Hadiah/reward juga tidak selalu harus berbentuk benda. Pelukan, ciuman, pujian juga merupakan hadiah yang sangat baik dan besar manfaatnya bagi psikis anak. Merupakan afirmasi positif untuk jiwa mereka.

Dengan demikian jelaslah, bahwa penerapan hukuman dan hadiah/reward dalam mendidik anak akan menjadi efektif apabila memperhatikan diri anak, baik secara fisik maupun psikis.

---

Referensi : Prophetic Parenting ; Cara Nabi Mendidik Anak, Dr. Muhammad Nur Abdul Hafidz Suwaid, Yogyakarta, Pro-U Media, cet. IV, 2009.
---

#satuharisatukaryaiidn

*Tulisan ini pernah dipublikasikan di uc news.

0 Komentar