Timeshighereducation.com

Ini hari ke-7 ikutan tantangan satu hari satu karya grup Ibu-ibu Doyan Nulis. Hari ini saya memilih tema parenting, lagi. Setelah sempat beralih ke traveling dan fiksi dua hari berturut-turut.

Tema kali ini adalah 'Menyiapkan Pendidikan Tinggi untuk Anak'. Kalau dibawa serius bakal berat. Maka dibawa santai aja ya 😊


Saya sempat share di facebook, berharap dari 27 orang yang saya tag akan membagi pendapat tentang apa yang akan mereka lakukan atau persiapkan untuk pendidikan tinggi anak? Sayangnya, sudah mepet-mepet deadline, gak ada yang komen. Bersyukurnya, ada satu orang teman FB yang tidak saya tag, bersedia memberikan komentar. Kerennya lagi beliau menjawab sesuai dengan kapasitasnya sebagai calon suami dan pendidik (guru).


Jawaban yang simple tapi sangat mengena menurut saya. 

Saya teringat tulisan DR. Muhammad Nur Abdul Hafidz Suwaid, dalam bukunya Prophetic Parenting : Cara Nabi Mendidik Anak, sebelum beliau membahas tentang bagaimana cara mendidik anak, pada bab pertama yang dipaparkannya adalah : untukmu, para mempelai dan pendidik sejati (nasihat cinta untuk calon orang tua). Dibuka dengan perkataan Ibnul Qayyim al-Jauziyah :

"Barang siapa yang dengan sengaja tidak mengajarkan apa yang bermanfaat bagi anaknya dan meninggalkannya begitu saja, berarti dia telah melakukan suatu kejahatan yang sangat besar. Kerusakan pada diri anak kebanyakan datang dari sisi orangtua yang meninggalkan mereka dan tidak mengajarkan kewajiban-kewajiban dalam agama berikut sunnah-sunnahnya". 

Bahkan pada halaman 53, DR. Muhammad Nur Abdul Hafidz Suwaid, membahas khusus bagaimana usaha untuk menikahi wanita salehah. Artinya bagaimana calon ayah bertanggungjawab untuk memberikan ibu yang baik untuk anak-anaknya.


Maka tidak berlebihan, jika jawaban teman saya tersebut merupakan dasar paling menentukan untuk pendidikan tinggi anak nantinya. Bukankah semua yang tinggi diawalai dari yang terendah. Pendidikan tinggi (kuliah) selalu diawali dari pendidikan usia dini. Dimana pada usia buaian ini anak-anak sangat dipengaruhi pola asuh dari orangtuanya.

Kemudian, selain mempersiapkan biaya, saya memandang bahwa modal selanjutnya untuk mempersiapkan pendidikan tinggi anak adalah dengan membentuk kemandirian anak. Kemandirian yang mampu mendewasakan anak, sebagaimana Rosululloh telah mewajibkan sholat pada anak usia 7 tahun. Maka setidaknya, pada usia baligh (SMP-SMA) anak sudah mampu menghidupi dirinya sendiri dengan hasil usaha sendiri. Tentu semuanya perlu proses. Maka diawali sejak mencari pasangan hidup dan terus menempa diri menjadi orang tua shalih, adalah salah satu hal pokok dalam persiapan pendidikan tinggi anak nantinya. Wallohu'alam.
---

#satuharisatukaryaiidn

2 Komentar

Silakan berkomentar dengan baik dan bijak. Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak 🤗