@raehanul_bahraen
Tulisan ini hanya sekedar cerita biasa. Tetapi saya ingin mengabadikannya, agar saya tidak lupa bagaimana pengalaman saya hari ini. Agar saya dapat mengingat kembali hikmah yang saya petik.

Hari ini, 10 Ramadhan 1438H (5 Juni 2017), sekolah tempat saya mengabdi, mengadakan PELATIHAN MODEL PEMBELAJARAN TERPADU (MPT). Acara ini akan dilaksanakan 2 hari. Hari ini, pada sesi 1 membahas tentang Supervisi awal (pengecekan RPPH : rencana pelaksanaan pembelajaran harian & MPT).  Dan sesi 2 penyampaian hasil evaluasi dan arahan perbaikan.
Beberapa minggu sebelumnya sudah disosialisasikan tentang perubahan RPPH dengan sistem terpadu. Kemudian saya dan bunda guru lainnya diberikan kewajiban untuk membuat sebuah RPPH dan dikumpul pada saat pelatihan.

RPPH saya sudah siap dalam bentuk file, namun saat akan dicetak, printer bermasalah. Akhirnya cetak di sekolah dan terlambat 15 menit datang ke acara.

Pada sesi 1 ini ada 17 RPPH yang terkumpul, meskipun peserta terhitung 21 orang. Dari 17 RPPH tersebut, hanya 8 saja yang memenuhi kriteria RPPH TERPADU.  Saya sebagai guru 'termuda' dari bilangan lama bekerja tentu sangat tidak berharap masuk kedalam katagori 8 itu. Namun diakhir sesi 2, saya sangat terkejut, ketika nama saya disebut pertamakali yang termasuk dalam RPPH TERPADU 3 terbaik. Tangan saya mendadak jadi dingin. Gugup, iya. Bahagia, iya. Karena ini adalah RPPH kedua yang saya buat selama saya di sekolah ini. Maklum, saya baru ditugasi sebagai guru bantu. Belum sebagai guru kelas.

Saya menganggap prestasi kecil ini, hanya sebagai kebetulan saja. Karena saya merasa belum apa-apa dan masih harus banyak belajar.

Oke, cukup ya cerita RPPHnya. Sebenarnya, fokus tulisan saya ada pada sosok pemateri pelatihan hari ini. Keren sekali. Saya selalu tertegun mendengarkan bicaranya. Ibaratnya kue, sangat renyah, gurih dan berbobot.
Awalnya saya menganggap biasa saja. Sosok pembicara biasa saja. Dan saya benar. Ia hanya seseorang yang biasa saja. Ibu rumah tangga dengan 5 orang anak. Berjilbab dan berkacamata.

Tapi kemudian, saya tertegun melihat handsock hitam yang ia kenakan hingga menutupi punggung dan telapak tangannya. Sesuatu yang menarik perhatian saya dan menentukan penilain saya selanjutnya. Saya pikir, ia seseorang yang begitu menjaga aurat. Hem, dengan jubah hitam polos dan jilbab senada, makin meyakinkan betapa teguh ia menjaga auratnya. Dengan 5 orang anak, menjaga kaos kaki saja sulit, apalagi handsock. Dan Saya mulai simpati.
Ketika Bunda Indah membaca salah satu surat Al-quran, saya lihat beliau ikut murojaah. Saat ia mulai bicara, ayat Al-Quran menjadi landasannya. Banyak ayat-ayat berkenaan dengan pendidikan dan keimanan yang ia hafal dan kemudian ia jabarkan menjadi bahasan materi. Waw, apapun yang ia bahas, semuanya enak didengar.
Hadits pertama yang beliau bahas,
sebagai pembuka pembahasan.

Selain itu, kata yang keluar selalu baik. Ada pujian sebagai reward terhadap kami, peserta yang berprestasi, tapi tidak pernah sekali pun ia merendahkan atau membuat peserta yang tidak berprestasi menjadi berkecil hati. Sungguh baik caranya merangkai kata.

Ketika pada pembahasan yang memerlukan ide-ide unik dan cemerlang, makin terlihat kecerdasannya. Caranya memecahkan masalah sangat brilian. Mungkin karena ia memang menguasai materi. Namun lebih dari itu, saya menilai bahwa keimanannyalah yang menjadikan ia bercahaya.

Saya jadi menarik sebuah kesimpulan. Sebuah pelajaran sangat berharga. Bahwa seseorang yang 'berisi' saat ia bicara akan mencerminkan isinya.

Dalam sebuah teko berisi air keruh, maka yang tertuang ke cangkir adalah air keruh. Tak mungkin diminum, melainkan akan dibuang. Ketika sebuah teko berisi air jernih, maka yang tertuang ke cangkir adalah air jernih. Air yang siap diminum dan mampu menghapus dahaga.

Begitulah, setiap perkataan itu mencerminkan bagaimana hati dan pikirannya. Semoga ilmu yang ia sampaikan dapat bermanfaat bagi saya, bagi guru lainnya dan menjadi amal jariahnya.

Tulisan ini kesannya memuji, tapi buat saya beliau memang pantas dipuji. Bukan karena RPPH saya terpilih 3 besar ya. Karena sejak pagi, saat pertama kali ia masuk ruangan, saya sudah berniat menuliskannya. Yah, diawali handsock hitam berenda.


0 Komentar