Menulis adalah berbahasa. Mengisyaratkan rasa dan asa. Ketika terluka atau bahagia, tulisan mampu mewakilinya.

Mengapa saya menulis? Karena saya suka. Dengan menulis ada kelegaan tersendiri di hati. Ya, mungkin masih taraf curahan perasaan yang tidak penting-penting amat. Tapi dari sinilah saya kemudian mencintai menulis.

Sebagai penulis awam--sebut saja begitulah ya--beberapa karya tulis saya pernah dibukukan dan dipublikasikan dikoran lokal. Karya yang sudah dipublikasikan ternyata melahirkan kebanggaan. Entahlah, ada rasa senang meskipun pada kenyataannya karya tersebut biasa saja. Tapi bangga ini tidak berarti sombong. Benar kata orang bijak, makin banyak pengetahuan, maka makin tahulah kita bahwa banyak hal yang tidak kita ketahui. Makin banyak karya yang kita buat maupun yang dipublikasikan, makin pahamlah bahwa kita masih banyak kekurangan dan kesalahan.

Penulis awam itu lebih sering dilanda penyakit 'galau' dan 'stagnan' nya. Seperti saya, saat menggebu, banyak karya yang mampu dihasilkan. Setelahnya, bisa bertahun-tahun tidak menulis apa-apa.

Dalam tulisan kali ini, saya ingin berbagi. Sekedar menuliskan pengalaman saya beberapa waktu lalu. Siapa tau bermanfaat. Bukankah jika kita memberi maka akan lebih banyak yang kita terima :)

Penyakit 'galau' mulai muncul pada awal akan menulis. Mau nulis apa ya? Kok kayanya aku gak bisa? Nah, saat 'galau' ini melanda, saya ingat tips dari Kang Abik (pengarang novel ayat-ayat cinta) pada pertemuan yang difasilitasi FLP Sumsel, 15 Januari 2016 lalu :

"Tulislah apa yang paling Anda sukai, yang paling Anda minati dan yang paling Anda kuasai."

Saya merealisasikannya. Baru-baru ini saya menulis tentang anak usia dini, sesuai kapasitas saya sebagai pendidik anak usia dini. Dan saya berhasil menelurkan sebuah artikel.

Belajar menulis itu asyik. Mengasah insting dan memperbanyak bacaan. Karena ternyata belajar menulis tidak sekedar pada bagaimana, melainkan gerakkanlah penamu.

Kita tidak akan pernah mampu menghasilkan satu katapun, jika hanya berpikir dan berhayal. Seburuk apapun, menulis adalah menulis. Belajar menulis adalah menulis. Maka tulis saja apapun yang ada dibenak kita. Tanpa mengeditnya.

'Galau' pula akan hadir ketika tulisan sudah selesai. Layak tidak ya? Menarik tidak ya bagi pembaca? Maka cara saya menuntaskannya adalah dengan menyodorkan naskah saya pada suami. Kebetulan suami saya seorang jurnalis dan memahami karya sastra. Karya-karyanya termasuk motivasi saya untuk terus menulis. Termasuk kritik-kritiknya yang sering bikin tulisan saya 'mentah' seketika. Hii hii.

Artinya, setelah naskah selesai, tak usah ragu meminta saran dan kritik pada yang mumpuni. Kalau di FLP SumSel ada Mb Yana (Azzura dayana), yuk Umi laila sari, Kak Acep, atau Nurhidayati dan teman-teman lainnya. Bisa juga kepada orang-orang terdekat yang tidak mengerti tulis menulis, kita bisa minta pendapatnya sebagai pembaca, itu akan lebih objektif.

Sementara penyakit 'stagnan' lahir ketika penulis merasa karyanya tak pernah layak. Atau ketika penulis kehilangan arah tujuan. Maka yang mesti dikuatkan adalah niat menulis. Karena apa? Untuk siapa? Lagi-lagi ingat perkataannya Kang Abik :

"Tanpa niat yang kuat anda tidak akan pernah menghasilkan karya sesederhana apapun."

Maka perbaikilah niat. Kalau saya, menulis itu untuk memperbaiki diri, untuk menebar kebaikan. Maka selalu saya ingatkan niatan itu.

Lalu bagaimana mencari pecut untuk mampu menghasilkan tulisan-tulisan lagi? Saya akan mencari kekuatan. Dengan cara bergabung dengan kelompok-kelompok kepenulisan dan berteman di dunia maya dengan para penulis-penulis produktif. Membaca karya-karya mereka, mengamati pola hidup mereka, mencontoh dan mengambil pelajaran dari kesemua pengamatan tersebut. Mereka bisa, mengapa kita tidak bisa? Tidak ada bakat dalam menulis, kecuali kemampuan yang diasah diujung pena.

Demikianlah, tulisan ini saya buat sebagai pengingat untuk diri sendiri pula. Sekiranya saya lupa pada menulis, semoga mampu menjadi salah satu kunci penuntas 'galau' dan atau 'stagnan' saya.

Menulis adalah menulis.
Palembang, 27 Maret 2017

0 Komentar