Ikutan meramaikan momen #K3BKartinian. Mepet, ini hari terakhir, tetap kejar ngetik heee. Gue banget :D

Sebenrnya sudah lama mau bikin postingan tentang ibu mertua. Tapi belum terealisasi karena penyakit malas selalu menerpa. Kali ini waktunya pas. Langsung semangat ngetik berkejaran dengan kuota yang sekarat.

Ibu mertua? Saya tidak punya ibu mertua, tapi saya punya Umak, demikian panggilan suami pada ibunya yang tentu saja setelah ijab-qobul adalah ibu saya juga. Mengapa saya tidak memakai istilah ibu mertua? Karena seakan memiliki jarak antara kami, selain karena demikianlah yang diajarkan ibu saya agar memahami bahwa ibu suami adalah ibuku sendiri.

Umak wanita yang luar biasa! Sangat luar biasa. Keempat anaknya dididik dengan baik, disekolahkan hinggah memiliki bekal yang baik untuk kehidupan mereka masing-masing. 

Suamiku adalah anak pertama, dengan ijazah sosiologinya kini menjadi wartawan di surat kabar lokal di Palembang. Alhamdulillah mampu mencukupi kebutuhan saya dan ketiga anak kami.

Adik ipar laki-laki anak kedua, sekarang menjadi Brimob. Sudah menikah dengan seorang Perawat dan memiliki seorang putri yang cantik.

Adik ipar yang perempuan ada dua orang. Yang pertama bekerja sebagai staf di PLN Jepara dan sudah memiliki seorang putri. Yang kedua baru saja lulus dari Poltek Universitas Sriwijaya dan sudah bekerja pula.

Mengapa saya malah membahas suami dan adik ipar saya? Karena disitulah letak kehebatan Umak. Dengan segala kekurangan dan keterbatasan Umak mampu menjadikan anak-anaknya orang yang sukses. Bukan meniadakan didikan Papa ( bapak mertua), karena bagaimanapun Papa lah yang mencarikan nafkah, namun kegigihan Umak ikut bekerja membantu Papa, kegigihan umak mengurus perut dan pakaian anak-anaknya, rumah selalu bersih dan rapi, baju distrika, dan meja makan selalu berisi. Kegigihan Umak memperjuangkan segala kesuksesan tersebut jauh lebih dominan, karena Umak adalah seorang ibu. Yah, seorang Ibu.

Adik ipar bungsu, adik ipar yang kedua, Umak, Papa dan Kakak Harits

Jadi teringat cerita Umak betapa kalutnya saat hamil anak kedua. Bukan tidak mau menerima, tapi keadaan membuat Umak belum siap dengan kehadirannya. Namun bagaimanapun kekalutan itu akhirnya Umak tetap tegar.
Jadi teringat bagaimana Umak mengurus Ombai (ibu kandung umak) hingga Ombai meninggal dunia. Bukan perkara mudah merawat Ibu yang karena kecelakaan jadi pikun dini. Tapi Umak bisa.

Umak bukan orang yang hangat meskipun ia tetap perhatian. Tipe orang yang cuek, namun tetap memberikan nasihat pada kami. Jika saya ada masalah dengan suami, seringkali saya mengeluhkannya pada Umak, dia tidak segera memberikan sambutan hangat, namun saat waktunya tiba nasehatnya sungguh menguatkan. Seakan Umak mengerti bagaimana baiknya menghadapi persolan yang ada. Teman curhat, yah, kadang-kadang Umak adalah teman curhat terbaik saya.

Satu hal yang pasti, saya belajar arti Kesabaran, belajar tentang menahan diri dan perasaan, belajar tegar dan yang paling pasti adalah belajar Masak hee hee hee. Masakan Umak tiada duanya, andai Umak buka rumah makan pasti laris manis. Pindang, sop, pempek, cuka, sambal semuanya mantap! Jadi ngiler masakan Umak :D

Foto bareng adek Khanza

Akhirnya, semoga Allah Swt memberikan rejeki yang banyak pada suami, pada saya dan anak-anak. Karena keinginan di hati paling dalam saya adalah memberikan nafkah kepada Ibu-ibu kami yang tiada balasan bagi kasih sayangnya sebanyak apapun kami memberi.
Demikian sekelumit tentang Umak, Ibu mertua yang bagiku adalah ibuku sendiri. Selamat hari Kartini. Salam cinta untuk seluruh Ibu Indonesia.

2 Komentar

  1. selamat hari kartini juga Mak, semoga keberkahan selalu menyertai keluarga :)

    BalasHapus

Silakan berkomentar dengan baik dan bijak. Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak 🤗