Dari : rumahtanggaislami.wordpress.com

Bermula dari pertanyaan adikku tentang hubungan lamanya masa ta'aruf dengan keberkahan setelah menikah, akhirnya lahir tulisan ini. Maaf ya cuma sekedar bagi pendapat. Sama sekali tidak bermaksud menggurui. *Siapa sih gue :D So, langsung di baca aja dan semoga bermanfaat....
________________________

Ta'aruf 'Islami'—baca : bukan pacaran—yang terlalu lama, yakni dapat dimaknai dengan waktu yang seharusnya bisa dua minggu jadi satu bulan, atau satu bulan menjadi dua atau tiga bulan dan seterusnya, tentu sangat mengurangi keberkahan setelah menikah.

Pertama, karena mengulur waktu tanpa penyebab yang benar-benar syar'I sama dengan memberikan peluang pada syetan untuk menghasut pada kemaksiatan. Tidak bisa dipungkiri, pernikahan adalah impian dalam segala ‘kelegalan’ antara laki-laki dan perempuan yang telah dihalalkan. Baik berbentuk fisik maupun batiniah. Seseorag yang berada diambang pintu pernikahan tentu akan lebih sering memikirkan—menghayalkan—apa-apa yang akan terjadi nantinya setelah menikah. Disinilah letak jalan hasudnya syetan terhadap hati dan pikiran manusia.

Kedua, kalau benar terjadi komunikasi-komunikasi lanjutan yang sebenarnya kurang penting antara kedua orang yang sedang dalam masa ta’aruf ini, atau ada interaksi baik verbal maupun non verbal diantara mereka, maka setiap torehan maksiat yang mengotori keimanan ini, akan menghitamkan hati sedikit demi sedikit. Hitam ini lah yang kemudian dibawa dalam pernikahan. Hitam ini akan menjadi sulit—sangat sulit—untuk diputihkan, pun setelah dalam pernikahan. Sebab, pada tahun-tahun pertama pernikahan merupakan masa pengenalan lebih dalam antara suami istri. Membutuhkan banyak penyesuaian, kesabaran, keikhlasan, dalam menjalaninya. Ketika hati yang dibawa dalam pernikahan telah ternoda, maka bisa dipastikan, untuk memaknai perbedaan antara suami istri menjadi beban yang tidak berlandaskan kesucian hati lagi, melainkan menyerupai sebentuk penyesalan. Karena apa? Karen hati harus belajar dari awal lagi tentang apa itu sabar, ikhlas bahkan khusyuk sesungguhnya. Ini berarti hati yang hitam dalam pernikahan membuat keberkahan pernikahan menjadi jauh dari jangkauan.

Berkah dalam pernikahan pun bukan hanya yang tampak oleh mata. Bukan pada : "Enak ya dia sudah menikah, sdh ketemu jodohnya." Bukan juga pada : "Wah, setelah menikah dia makin kaya ya. Punya mobil, punya rumah, bisnis lancar." Bukan pula pada : "Hemm, berkahnya, dia sdh punya banyak anak." Bukan pada itu semua. Keberkahan pernikahan sesungguhnya terletak dalam hati yang paling dalam. Apa bentuknya? Yakni semakin meningkatnya kekhusyukan dan keimanan antara suami, istri dan anak-anak. Keberkahan sesungguhnya adalah kenikmatan atas rasa syukur pada segala karuniaNya dalam pernikahan. Yaitu mampu bersyukur dengan segala keadaan suami atau istri, mampu bersyukur dengan segala kekurangan dan kelebihan harta dan mampu bersyukur pada diberi atau tidaknya keturunan. Sebab, segala keindahan yang tampak pada mata, jika tak resap ke dalam jiwa maka sungguh bukan apa-apa.
bungautrujah.blogspot.com

Berjagalah dari setiap godaan syetan. Perkuatlah diri dengan keteguhan iman. Jauhkan segala jalan peluang syetan mempermainkan hati kita. Segerakanlah menikah. Segala kesulitan, insyaallah menjadi 'keindahan' dalam pernikahan yang berkah. Jadikan dirimu 'indah' agar mendapatkan jodoh yang 'indah' pula. So, buatlah pernikahanmu berkah. Pernikahan yang benar caranya, halal hartanya, suci hatinya.

Allah Ta’ala berfirman :
 “Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula.” (QS. An Nur: 26)

2 Komentar

  1. alhamdulillah,,, jazakillahukhoir mbaa ats pnjelasannya... khoir insyaallah,,, ^_^

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah kalau bisa membantu :)

    BalasHapus

Silakan berkomentar dengan baik dan bijak. Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak 🤗