katamutiara.co

Sebelumnya, tulisan ini khusus saya buat sebagai tanda CINTA saya kepada ibu. Bukan sebatas kata-kata biasa, namun merupakan aplikasi dari hati terdalam. Tulisan ini sepenggal kecil cara saya mengabadikan perhatian mereka atas saya, sekaligus untuk mengingatkan saya--jika saya lupa--atas jasa mereka yang tak mungkin terbalas.

Sungguh bersyukur, dalam kehidupan yang hanya satu kali ini saya dikaruniai tidak cuma satu orang ibu, melainkan tiga orang. Memiliki tiga orang penting dalam menjalani hari-hari sungguh menjadikan saya seseorang yang lebih baik, lebih tegar setiap harinya.

Mengapa saya bisa memiliki tiga ibu? Bukan berarti ayah saya memiliki tiga istri ya (heeee heee), berikut saya jelaskan satu per satu siapa saja ibu saya ini. Sekaligus apa saja yang saya pelajari dari ketiga orang yang mengasihi dan saya kasihi sepenuh hati.

Ibu pertama adalah ibu yang mengandung, melahirkan dan membesarkan saya. Tak perlu diragukan lagi, limpahan kasih sayang dan perhatiannya adalah suatu hal terbesar yang tak mungkin terbalas. Sebanyak apapun yang saya lakukan, apapun yang saya berikan untuknya tak sedikit pun mampu mengganti segala yang pernah ia beri hingga saat ini.

Untuknya, saya selalu ingin menjadi seseorang yang menyenangkan. Menjadi seseorang yang tegas. Berani menolak yang salah dan membiasakan diri untuk berterimakasih atas kebaikan orang lain.

Untuknya, saya berusaha menjadi ibu yang bijaksana. Mendidik cucu-cucunya seperti ia mendidik saya dulu sehingga mampu menjadikan anak-anak saya bijaksana sepertinya. Untuknya, sungguh saya ingin menjadi kaya. Kaya hati dan kaya harta. Agar saya mampu mengasihinya sebagaimana kasihnya kepada saya, agar saya mampu memberikan kebahagiaan duniawi dengan limpahan kekayaan saya.
Untuknya, saya ingin menjadi yang terbaik. Terbaik di matanya bahkan dengan segala keterbatasan saya.

Lanjut ya :)


Ibu yang kedua adalah Uak, begitu saya memanggilnya. Dia kakak perempuan ibu kandung saya.

Memang pada umumnya keluarga dekat pasti lebik baik dan perhatian dibanding dengan orang lain. Tapi berbeda dengan ibu saya yang satu ini--baca : Uak--sejak kecil saya sering bertandang ke rumahnya. Bukan sehari dua hari, melainkan dalam hitungan minggu. Walau mesti menempuh perjalanan 4 jam dari rumah. Karena beda provinsi, saya selalu mau jika diajak ke tempat Uak.

Tak lama memang waktu yang diberikan Tuhan untuk kebersamaan kami. Namun hanya kenangan indah yang ia tinggalkan bagi saya.

Ia mengajarkan tentang kesabaran. Betapa penyakit yang belasan tahun ia derita tetap membuatnya tersenyum dan seakan selalu bahagia di depan saya. Ia mengajarkan kelemah lembutan, demikian selama hidupnya ia berbicara dengan saya. Ia mengajarkan rasa taat pada suami, selalu memasakkan berbagai menu setiap harinya. Meski lelah, meski begitu rapuh tubuhnya, tetap saja ia memberikan yang terbaik untuk suami, anak-anaknya dan bahkan kepada saya.     Ia mengajarkan kesopanan, kepedulian dan kasih sayang pada semua. Tidak pernah saya merasa sedemikian betah, kecuali di rumahnya.

Masih baik di ingatan saya, ketika ia merabai telapak kakinya yang pecah-pecah. Saya ngeri melihatnya, pasti sangat perih. Namun ketika saya tanyakan itu, ia katakan bahwa ia tidak merasakan sakit. Tapi tetap saja, hati saya sedih melihat keadaannya. Ia sering melamun di teras rumah. Entah apa yang ia pikirkan.

Terakhir, kenangan ketika ia akan pergi selamanya. Meski dalam keadaan hamil besar, saya bersikeras menjenguknya. Dengan senang hati saya membawa pulang baju-baju kotornya untuk dicuci. Namun, Tuhan berkehendak lain. Bakti saya hanya sampai di situ saja. Malamnya, kabar duka membuat saya tak henti menangis. Membuat suami kebingungan. Saya bersikeras pula ikut mengantarkan jenazahnya. Dari Palembang ke Lampung Utara. Sempat dilarang. Tapi saya tetap ingin pergi. Dia adalah ibu saya. Sesungguhnya saya belum siap ditinggalkan.

Namun ternyata, ketika jenazahnya dimandikan, disholatkan, hingga dikuburkan, saya sama sekali tak sanggup menatap wajah bekunya. Saya hanya diam di kursi makan tempat dimana ia sering menyuguhkan makanan yang lezat untuk saya. Diam dan berusaha tegar. Meski berbulan-bulan setelah kepergiannya, seringkali saya menangis sejadi-jadinya karena rindu dan lagi-lagi merasa tidak percaya. Beruntung suami tetap menguatkan di sisi saya. Dan beruntung, saya masih punya dua orang ibu lagi yang harus saya perlakukan sebaik-baiknya agar kelak saya tidak menyesal.

Dan untuknya, kini hanya doa setulus hati. Sungguh saya mencintainya, teramat mencintainya. Semoga Allah menerima doa saya dan menghitungnya sebagai doa anak terhadap ibunya. Aamiin...

Next...

Ibu yang ketiga. Dia adalah ibu sahabat saya. Mungkin sekarang saya dan sahabat saya sudah tidak terlau dekat lagi. Bukan karena kami bermusuhan atau ada permasalahan, tapi karena kesibukan dan kewajiban masing-masing membuat sulit sekali bagi kami untuk bertemu, apalagi untuk berlama-lama saling mencurahkan isi hati.

Tapi itu tidak menjadikan saya lupa pada Ibu saya yang ketiga ini. Sebab saya selalu ingat, betapa ia memperlakukan saya sama seperti anak-anaknya. Padahal saya bukan siapa-siapa kecuali teman dari anaknya.

Ketika saya di rumahnya, ia kerapkali menasihati. Segala masukan ia tuturkan panjang lebar untuk kebaikan saya. Ia sering menitipkan makanana atau sekedar uang sepuluh duapuluh ribu untuk saya, atau bahkan mengantarkan beras semasa saya masih nge-kost kuliah dulu.

Hingga pada puncaknya, ia marah karena saya menyukai seseorang. Ia benar, karena memang kriteria orang ini jauh dari ‘standart’ yang ia inginkan untuk saya. Tapi saya tetap keras kepala. Saya tahu dia kecewa. Saya paham sepenuhnya, ia bermaksud baik pada saya. Terimakasih Bu.

Well, Saya punya tiga ibu. Dan sungguh saya menyayangi mereka.
Mencintai mereka selamanya.

*SELAMAT HARI IBU.

2 Komentar

Silakan berkomentar dengan baik dan bijak. Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak 🤗