Menjadi perempuan seharusnya mampu seperti hamparan padang pasir. Setiap luka yang digoreskan padanya, kemudian hilang tertiup angin. Tetapi perempuan adalah sosok yang seringkali hancur oleh kelemahannya, yakni perasaan. Tampil tegar namun sebenarnya rapuh. Begitulah,  perempuan, menjadi sosok yang selalu fenomenal.

Aurat adalah salah satu anugerah yang juga aib. Menjadi tak berharga ketika tidak disyukuri. Banyak hal mengenai aurat ini yang menjadikan perempuan dipandang sebagai manusia sempurna, tetapi juga banyak hal yang menjadikan perempuan manusia terhina karena auratnya.

Menjadi seorang wanita notabene-nya menjadi seorang istri dan ibu. Istri adalah pendamping suami yang akan menemaninya menempuh kehidupan, membentuk satu keluarga baru. Seorang istri adalah peredam nafsu syahwat bagi suami. Menjadikannya bahagia dengan segala kesenangan yang—lagi-lagi—berbau aurat. Suatu kebanggaan tiada tara bagi seorang perempuan, ketika suami merasa cukup dengan apa yang dimilikinya (baca : tubuh). Tidak mencari kesenangan syahwat dari selainnya. Tidak merasa tergoda dengan keindahan yang ditampilkan perempuan-perempuan yang lain.

Namun ini adalah PR besar bagi suami dan istri. Lelaki yang diciptakan dengan kekuatannya, seringkali menjadi makhluk terkutuk yang menjadikan perempuan sebagai manusia paling hina. Pun ketika lelaki menjadi seorang suami. Aurat istri tak dirasa cukup. Anak-anak yang telah susah payah dikandung, dilahirkan dan disusui oleh sang istri tetap saja tidak menjadi rem, tidak menjadi kesyukuran sebagai karuniaNya.

Memang lelaki diperbolehkan menikahi lebih dari satu orang perempuan. Tentu dengan alasan yang syar’i, bukan dengan mengada-ada namun sebenarnya untuk satu tujuan : nafsu syahwat. Banyak kasus di sekitar kita, perempuan menjadi makhluk yang paling lemah, seakan tak berdaya dan tidak memiliki kemampuan apa-apa atas sakit dan kelukaan rasa yang ia alami karena seorang suami. Diduakan tanpa sepengetahuan istri. Bertahun-tahun menikmati tubuh perempuan lain sebagai selingkuhan. Meskipun selingkuhan itu sudah resmi dinikahi, sah secara agama dan negara, tetapi nyatanya hati seorang istri yang dihianati begitu perih. Atau sesuatu yang mungkin masih dianggap remeh adalah ketika suami kegandrungan dengan film, vidio atau foto-foto porno yang bertebaran di dunia maya. Ini menjadi suatu bentuk penghianatan baru yang dalam waktu tak terduga akan menjadi bumerang bagi keharmonisan bahkan kelangsungan hidup berkeluarga.

Perempuan, menjadi begitu lemah, ketika ia tak berarti sesungguhnya sebagai istri yang ideal atau istri yang cukup bagi suaminya. Tetapi menjadi perempuan juga notabene-nya menjadi seorang ibu. Ia akan lebih kuat dan terus akan kuat dengan dan demi anak-anaknya. Suami tidak akan menjadi patokan dasar dalam kehidupannya. Apalagi jika suami tersebut tidak menjadi imam yang baik bagi dirinya dan anak-anak. Buah hati adalah peneguh. Harapan yang menjadikan perempuan lemah sebagai acuan hidup untuk lebih tegar. Yah, walau hati perempuan sebenarnya seperti batu, yang jika ditoreh sedikit saja ia akan membekas dan butuh waktu yang begitu lama untuk menghilangkanya, bahkan torehan itu terpahat tak bisa terhapus lagi, tetapi banyak perempuan yang kemudian hatinya bak padang pasir demi anak-anaknya.

Pada akhirnya, perempuan adalah perhiasan dunia, bisa mengantarkan ke surga tapi bisa pula membimbing ke neraka. Suami adalah teman paling dekat baginya, yang paling dominan mewarnai kehidupannya, yang  paling berperan dalam menentukan baik-buruk dirinya. Anak pun adalah titipan, yang bisa menjadi rejeki besar atau bisa jadi sebagai ujian kehidupan. Menjadi perempuan artinya menjadi TEGAR, dengan suami sebagai pemimpinnya dan dengan anak-anak sebagai amanah baginya.

*Catatan hati seorang perempuan.
Rusunawa, 11 Maret 2013 Pukul 2.45 dini hari.

0 Komentar