sarwoono blogspot com


Aku dibesarkan di sebuah desa kecil bernama Banjarsari. Terletak di kecamatan Semidangaji OKU Sumatera Selatan. Semasa kecil aku dan teman-temanku sering bermain bersama. Kisah yang selalu indah dan lucu untuk dikenang. Yang paling sempurna terekam dalam ingatanku adalah permainan bola kasti dan permainan ‘uncak-uncak-an’ sering juga kami menyebut permainan ini ‘cak ingkling’. Mungkin istilah yang kita gunakan berbeda satu sama lain meski pun bentuk permainannya mirip atau bahkan sama, tapi demikianlah kami biasa menyebutnya.

Permainan bola kasti sering kami mainkan juga di sekolah sebagai permainan olahraga, dari sana lah kami mengenal permainan ini. Permainan ini dimainkan oleh dua kelompok yang terdiri dari minimal tiga orang pemain masing-masing kelompok. Permainan akan dimulai setelah salah seorang yang mewakili tim melakukan ‘suit’, yakni penentuan kelompok siapa yang terlebih dahulu memukul bola dan kelompok mana yang harus jaga.

Waktu itu, kebetulan kelompok kami yang bermain duluan. Nah, bagian ini yang selalu aku takutkan. Bagian aku harus memukul bola yang dilemparkan oleh teman sekelompokku dengan sebatang kayu digengamanku yang telah disiapkan untuk permainan. Satu orang tim lawan berjaga dibelakangku siaga mengambil bola jika aku tidak mengenainya dengan kayu pemukul yang kugunakan. Yang lainnya didepanku dengan jarak bervariasi, satu orang kurang lebih tiga meter dihadapanku dan yang lainnya sedikit lebih jauh. Mereka juga bertugas sama mengambil bola dan melemparnya dengan kuat ke orang yang memukul bola tersebut. Mereka berjaga di dekat garis batas posisi aman untukku nantinya setelah memukul bola. Biasanya ada dua tempat aman, jika kena maka gantian tim yang jaga yang bermain memukul bola dan sebaliknya, tim yang tadinya bermain gantian menjadi penjaga.

Aku sangat takut jika terkena lemparan bola dari tim lawan ini. Pasalnya, lemparan mereka sangat kuat. Sekuat tenaga, seakan mereka marah dan benci. Sialnya, aku kerap terkena pukulan bola dari tim lawan itu. Meski sakit, kami tidak pernah jera untuk memainkannya lagi. Tetap terasa asik, seru dan menyenangkan. Nah, bagi kelompok yang paling banyak mengumpulkan poin keberhasilan berlari kembali ke tempat semula—tempat pertama memukul bola—setelah melewati tempat aman melalui tim lawan, itu lah kelompok yang menang.

Memang permainan ini lebih cocok untuk anak laki-laki. Karena anak laki-laki lebih bertenaga dan lebih cepat berlari. Tapi tidak berarti anak perempuan tidak boleh memainkannya. Hanya saja sering kali kalau terkena lemparan bola dari tim lawan, mereka—anak perempuan, termasuk aku—akan menangis karena sakit. Sering kali juga permainan harus terhenti karena mesti mebujuk yang menangis untuk diam, kadang diwarnai pertengkaran-pertengkaran kecil karena sama-sama tidak mau disalahkan. Biasa lah anak-anak.

Jadi seperti merasakan kembali seru dan lucunya permainan itu. Tapi sayang, saat ini tidak pernah lagi aku menjumpai anak-anak memainkan permainan bola kasti. Di sekolah maupun di rumah. Lebih sering yang terlihat anak-anak yang asyik perang-perangan dengan pistol plastik mainan berbagai model di gengaman mereka. Mereka tidak perduli dengan bahayanya, mereka juga tidak perduli berapa harga untuk membeli mainan itu. Selain itu, yang cenderung tampak di sana sini anak-anak yang tengah terpekur di warung-warung internet atau rental PS, asyik bermain game canggih. Mereka lupa dengan waktu dan uang. Yah, sangat disayangkan. Padahal permainan bola kasti ini gratis dan sangat baik untuk olah tubuh.

Satu lagi permainan yang sangat menyenangkan bagiku semasa kecil dulu, yakni permainan ‘uncak-uncak-an’ atau ‘cak-ingkling’. Permainan ini bisa dimainkan oleh dua orang saja, tapi bisa juga lebih. Permainan ini lebih santai dan tidak ekstrim seperti permainan bola kasti. Hanya melompat dengan menggunakan satu kaki dari kotak ke kotak yang di gambar di tanah rata, kaki yang satu lagi diangkat alias tidak boleh kena tanah. Ketika melompat juga tidak boleh mengenai garis. Pertama-tama, uncak—pecahan genteng atau batu yang pipih, yang jika dilempar di tanah, bisa mantap sesuai tujuan—di lempar dari kotak pertama sampai kotak terakhir, biasanya kotak yang kami buat berbentuk kapal terbang, kotak jaringan kubus. Lalu uncak diambil sembari melompat dengan kaki sebelah. Begitu seterusnya. Jika telah tamat atau selesai, dilanjutkan dengan melempar dari kotak pertama lagi, tapi kali ini, setelah uncak diambil, uncak di bawa dengan diletakkan di atas kaki yang tidak menapak di tanah. Uncak tidak boleh terjatuh sampai setiap kotak dilalui. Jika babak ini sudah selesai pula, maka dilanjutkan dengan uncak di atas kepala, ini babak tersulit bagiku, menjaga potongan genteng di atas kepala sambil melompat-lompat dengan kaki sebelah. Dan siapa yang paling cepat menyelesaikan tahapan demi tahapan tersebut, dialah pemenangnya.

Ada yang menarik dari permainan ini, yaitu pembuatan uncak-nya. Aku pernah memiliki uncak dari pecahan genteng dengan bentuk bulat pipih. Kubuat dengan serius dan sepenuh hati. Setelah aku menemukan genteng, lalu kurapikan sesuai seleraku dengan memecahkan perlahan menggunakan batu kecil dipinggirannya. Setelah berbentuk, potongan genteng tersebut diperhalus dengan mengosokkannya ke dinding kasar atau batu-batu besar. Jadilah uncak dengan bentuk unik, rapi dan halus kesukaanku. Begitu pun yang dilakukan oleh teman-temanku. Setelah itu, seringkali kami ribut membanggakan uncak masing-masing dan membuktikan kemantapannya dengan bermain ‘cak- ingkling’ bersama.

Sangking semangatnya, tak jarang saat mandi di sungai pun kami sibuk mencari batu pipih dan halus untuk dijadikan uncak. Bagi yang mendapatkan, akan sangat bangga dan bersenang hati, sebab kelebihannya, uncak dari batu jauh lebih awet daripada uncak dari genteng yang mudah pecah. Bentuknya juga lebih cantik, karena ia lebih alami. Mencari uncak batu ini tidak mudah, kami harus berlama-lama berendam di air, berenang ke tengah dan berkali-kali menyelam. Mata sedikit pedih dan memerah karena harus melihat dalam air tidak membuat kami jera sebelum menemukan batu yang paling ideal menurut kami masing-masing. Kalau di pinggir sungai, batu yang ada biasanya tidak licin, jadi kurang bagus dan tidak menarik.

Begitulah, permaianan sederhana masa kecilku, murah meriah, sekaligus menyehatkan bagi tubuh. Tapi sangat disayangkan, kedua permainan ini sudah jarang ditemui, jarang dianjurkan bahkan jarang diceritakan,. Anak-anak zaman sekarang lebih canggih, permainannya, lebih malas, bahkan lebih congkak. Malu untuk bermain kotor-kotor dan malas untuk berlelah-lelah memainkan permainan bola kasti atau ‘cak-ingkling’. Anak-anak sekarang lebih senang bermain individualis dari pada bermain bersama memperkuat ikatan pertemanan. Semoga kenangan ini mampu menggugah hati kita untuk tetap melestarikan kekayaan budaya yang kita miliki sekecil apa pun itu. Sesungguhnya kesederhanaan itu lah ciri dan kekayaan kita yang paling berharga.

Diikutkan pada antologi 'meniti jejak bocah di peti sejarah' oleh penerbit Folipenol (Tapi tidak terpilih. He)

0 Komentar