Wanita itu masih diam termangu di ujung senja. Kelebat seraut wajah mungil mewarnai pandangannya. Suara tangis bayi perempuan terus terdengar ditelinganya. Ia merindukan itu. Berharap wajah dan tangis itu menemaninya menjalani waktu. Terlalu kesal pada keadaan, wanita itu mendengus keras.
            “Apa yang harus aku perbuat?” Tanyanya pada diri sendiri.
Wanita itu terluka. Ia larut dalam rasa sedih dan bersalahnya. Ini sudah hari ketujuh setelah bayi mungil tak lagi bernyawa dalam rahimnya ia lahirkan. Baru berusia tujuh bulan. Mungkin karena ia terlalu lelah penyebabnya, atau karena ia kurang memperhatikan kesehatannya. Dokter bilang, ia mengalami Intrauterin Fetal Death (IUFD). Apapun itu, wanita itu terpukul. Sebagai seorang ibu ia merasa tak mampu menjaga kandungannya, menjaga anaknya.
            “Mas, apa Mas tidak sedih?” Ia bertanya pada suami tercinta atas kehilangan mereka. Suaminya tersenyum, senyuman yang aneh menurut wanita itu.
            “Mas sedih Dik. Tapi yang terpenting bagi Mas, bagi kita sekarang, bahwa kau baik-baik saja.” Wanita itu membenarkan ucapan suaminya. Tapi itu tak menghapus kesedihan dan rasa bersalahnya. Ia masih saja menyelipkan rasa penyesalan yang dalam di sisi hatinya yang perlahan mulai mengelam.
            Pada hari kesepuluh, di senja yang cerah, ia tengah memperhatikan seorang ibu yang sedang bercanda dengan putri kecilnya yang manis. Mungkin baru berumur satu tahun. Pada awalnya hal itu sangat menarik hati dan menyenangkan baginya. Namun kemudian muncul lah kembali rasa rindu dan kesedihan, lalu pelan-pelan menjelma menjadi benci karena rasa iri yang menyelubungi perasaannya yang labil. Ia tiba-tiba tak suka pada anak-anak. Memalingkan muka setiap kali melihat mereka, menjauhinya setiap kali berpapasan. Semua foto atau gambar, semua buku dan majalah atau apapun yang berhubungan dengan bayi dan anak-anak ia singkirkan dari pandangannya. Ia buang bahkan ia robek dan bakar.
            Suaminya merasa akan tidak baik jika ini terus berlanjut. Sebagai seorang suami yang mencintai istrinya ia mencoba memberi pengertian. Dengan penuh kasih sayang ia menjelaskan bahwa semua ini adalah takdir. Tidak boleh berputus asa dengan menyalahkan diri sendiri.
            “Sebagai istri, kau istri yang paling baik, paling sempurna bagi Mas, Dik.” Ujarnya di akhir nasihat. Wanita itu tercenung. Ia tersentuh. Lagi-lagi ia membenarkan ucapan suaminya dalam hati. Tapi setengah dari dirinya tetap membeku. Hingga pada puncaknya, telah berlalu empatpuluh hari, ia tak mau disentuh oleh suaminya. Alasannya macam-macam, capek, sedang tidak ingin, pura-pura tidur dan lain sebagainya. Suaminya berusaha untuk memaklumi. Padahal sesungguhnya wanita itu takut hamil dan takut kehilangan lagi.
            Satu bulan, satu bulan setengah, dua bulan, dua bulan seminggu, suaminya tak tahan lagi dengan kelakuan wanita itu. Terjadilah pertengkaran hebat. Keduanya sama-sama bersikeras. Sebagai laki-laki normal, hal itu merupakan kebutuhan biologis yang harus terpenuhi. Dan sebagai wanita yang kehilangan seorang buah hati, wanita itu pun merasa wajar dengan sikapnya.
            Keharmonisan pun terganggu. Suaminya mulai jarang pulang ke rumah. Pada awalnya wanita itu merasa bersyukur dengan hal itu, meski sempat terbersit tanya kemana suaminya ketika tidak pulang ke rumah. Tetapi wanita itu tetap saja menikmati hari-hari kesendirian yang mulai ia jalani. Kadang ia merasa aneh dan sepi. Tak ada lagi hari-hari penuh canda dan tawa, tak ada lagi waktu-waktu bermesraan bersama suaminya. Ia berusaha menapikkan itu dan tetap menikmati keputusannya.
            Berbulan-bulan hubungan mereka begitu. Sampai suatu hari, tidak sengaja ia melihat suaminya tengah duduk di sebuah kafe dengan seorang teman wanitanya—mungkin teman kerja. Wanita itu memperhatikan mereka dari kejauhan. Selain karena rindu pada suaminya, ada perasaan aneh yang tiba-tiba membebani pikirannya atas kebersamaan suaminya dengan wanita itu. Ia melihat suaminya tertawa lepas. Tampak begitu senang. Pembicaraan yang sangat menarik mungkin yang sedang mereka bicarakan. Wanita yang bersama suaminya pun tak lepas menyunggingkan senyum. Limabelas menit kemudian mereka berdiri lalu bersalaman, lalu wanita itu pergi meninggalkan suaminya. Sementara suaminya kembali duduk dan menyeruput sisa kopinya. Dari kejauhan, diliputi rasa yang campur aduk; sedikit curiga, sejumput cemburu dan segumpal rindu, ia masih memperhatikan suaminya.
            “Apa yang harus aku perbuat sekarang?” Tanyanya pada diri sendiri. Rautnya menjadi sayu tak bersemangat. Ia memutuskan untuk pulang dan tidak menemui suaminya. Setibanya di rumah ia merenungi keputusannya. Kesendirian yang tak jelas. Ketidakharmonisan telah ia ciptakan. Setitik penyesalan jatuh di pipinya. Ia masih saja berusaha menepis rasa rindu pada suaminya. Sungguh, hati dan jiwanya tengah menjadi tawanan kegalauan.
“Aku belum siap hamil dan kehilangan lagi!” Kalimat pasti dari keputusan yang tetap ia junjung.
***
            Pada suatu malam, pada kekalutan yang tengah terjadi, suaminya pulang ke rumah. Ia mengajak istrinya berbicara tentang hubungan mereka. Terakhir, dengan nada putus asa dan kepedihan yang dalam, suaminya meminta izin untuk mencari wanita lain sebagai pengganti dirinya. Wanita itu hanya diam. Air matanya berlinang.
Setelah suaminya terlelap, ia mencoba berfikir dalam. Menggali kembali kebenaran keputusan sepihak yang ia ambil selama ini. Egoiskah?
“Apakah aku harus kehilangan suami setelah kehilangan seorang buah hati?” ucapan pilu mewakili kegalauannya.
Keesokan harinya, sang suami terkejut dengan perubahan yang terjadi. Sarapan telah tersedia rapi dan menggugah selera. Handuk, baju kerja lengkap dengan tas dan sepatu sudah dipersiapkan dengan rapi. Ia tersenyum senang.
“Apakah ini pertanda baik?” Ujarnya sendiri. Ia segera mencari istrinya. Tapi yang ia temukan hanya selembar kertas dengan tulisan tangan yang khas. Tulisan istrinya.
Mas, aku minta maaf atas keegoisanku. Mungkin aku masih terlalu sibuk tenggelam dalam kesedihanku atas kehilangan kita. Padahal seharusnya aku lebih sibuk atas apa yang semestinya ada dan tengah kujalani dalam sisi kehidupanku yang lain. Aku tidak selayaknya larut dalam ratap kehilanganku. Sebagai istri, aku wajib, bahkan lebih wajib sibuk untuk suami. Untuk berbakti menunaikan tugas dan kewajibanku sebagaimana mestinya. Aku cinta Mas, cinta yang teramat dalam. Jangan tinggalkan aku ya Mas.
                                                                                                                    Salam cinta, Istrimu

            Suaminya tersenyum lebar.
            “Jurusku kali ini sukses!” Ujarnya gembira.

*Cerpen mendadak :)

0 Komentar